Magetan, Jawa Timur – Di gang-gang sempit Dukuh Banjar Mlati, Desa Sukowinangun, Kecamatan Magetan, seharusnya aroma gurih opak beras tak pernah pudar. Ini adalah ‘Kampung Lempeng’, jantung produksi camilan renyah yang menghidupi banyak keluarga selama puluhan tahun. Tapi, jangan salah sangka. Di balik kepulan asap dan kesibukan tangan, kini tersimpan kekhawatiran yang mendalam.
Ketika Biaya Produksi Melonjak, Harga Jual Tak Mampu Mengejar
Setiap pagi, sejak dini hari, para perempuan di sini tak henti mengolah adonan, menggoreng, dan membungkus lempeng. Namun, beberapa bulan terakhir, keringat mereka terasa semakin berat. Bukan hanya karena api kompor, tapi juga karena api harga yang terus membumbung tinggi.
“Pekerjaan kami terasa semakin berat,” bisik salah satu pengrajin, mengacu pada melonjaknya harga bahan baku seperti minyak goreng dan plastik pembungkus. Sementara itu, daya beli masyarakat mulai melemah, pesanan pun ikut berkurang.
Rutinah, salah satu srikandi pengrajin lempeng di Banjar Mlati, menghela napas. “Kenaikan harga minyak sudah terjadi sejak sebelum Ramadan. Harga minyak goreng curah yang sebelumnya Rp19.000 kini menjadi Rp22.000 per liter,” tuturnya sambil menata tumpukan lempeng yang baru matang, seolah ada beban tak kasat mata di setiap tumpukannya.
“Naiknya sekitar Rp3.000. Mau nggak mau harga lempeng ikut dinaikkan,” lanjutnya.
Satu kemasan lempeng yang dulu Rp25.000, kini terpaksa dijual Rp27.000. Kenaikan itu? Jauh dari kata cukup untuk menutupi membengkaknya biaya produksi. “Penjualannya juga agak berkurang. Pembeli banyak yang mengeluh,” bisiknya pelan, nada putus asa terselip di sana.
Strategi Pahit Agar Dapur Tetap Ngebul
Dulu, puluhan kilogram beras bisa dihabiskan Rutinah dalam sehari, saat pesanan masih membanjir. Kini, untuk bertahan, banyak pengrajin terpaksa menjual opak mentah, belum digoreng.
“Kalau digoreng modal minyaknya besar. Jadi sebagian dijual mentahan,” jelas Rutinah, sebuah strategi pahit demi menjaga dapur tetap ngebul.
Dan bukan cuma minyak goreng! Gempuran lain datang dari harga plastik pembungkus yang ikut meroket. Plastik ukuran besar yang dulu hanya sekitar Rp17.000 hingga Rp20.000, kini harganya tak karuan. Padahal, plastik itu nyawa lempeng, menjaga kualitasnya sampai ke tangan pembeli. “Sekarang semuanya naik. Plastik juga naik,” keluh Rutinah, raut wajahnya menunjukkan keletihan yang mendalam.
Tekad Tak Luntur: Dua Dekade Mengabdi pada Lempeng
Tapi, di tengah badai ini, satu hal yang tak luntur adalah semangat mereka. Tak banyak pilihan, kata Rutinah, selain terus berjuang. Hampir dua dekade, 19 tahun, dapurnya tak pernah sepi. “Sudah lama bikin lempeng. Ya tetap dijalani,” ucapnya, sebuah janji pada diri sendiri dan keluarga.
Painem, pengrajin lempeng lainnya, mengamini. Ia juga merasakan betul beratnya beban. “Harga minyak goreng kini mencapai Rp21.500 per liter, padahal sebelumnya hanya sekitar Rp18.500,” ujarnya. Harga beras pun ikut merangkak.
Meskipun harga jual lempeng sudah dinaikkan Rp2.000, keuntungannya tetap “tipis sekali.” “Iya sedikit untuk nutup biaya,” katanya sambil tersenyum kecil, senyum yang menyimpan ribuan cerita perjuangan.
Ini bukan sekadar cerita tentang lempeng. Ini adalah potret nyata perjuangan ekonomi rakyat kecil di ‘Kampung Lempeng’ Magetan, yang terus berupaya menjaga denyut nadi dapur mereka tetap berdetak di tengah gempuran harga yang tak kenal ampun. Akankah suara kuali mereka tetap meramaikan desa ini, ataukah perlahan padam ditelan zaman dan kenaikan harga? Kita tunggu dan semoga ada uluran tangan.






