Ngabuburit Berburu Takjil di Kampung Madinah Magetan – Dinas Komunikasi dan Informatika Kab. Magetan

0
25

Ngabuburit Berburu Takjil di Kampung Madinah Magetan.

Kabupaten Magetan mempunyai sebuah perkampungan aneh yang dinamakan Kampung Madinah, tepatnya di desa Temboro Kecamatan Karas. Disebut Kampung Madinah karena nyaris seluruh penduduk di desa Temboro yang kebanyakan merupakan santri dan santriwati Pondok Temboro mengenakan baju yang digunakan oleh penduduknya seperti baju masyarakat Arab. Pria menggunakan busana jubah dan penutup kepala, sementara perempuan menutup seluruh tubuhnya dengan baju warna gelap dan sebagian besar menggunakan burka. “ Gaya busana tersebut telah menjadi bagian kehidupan sehari-hari penduduk Desa Temboro. Berpakaian seperti itu karena orang sini pendidikan agamanya kuat. Mereka mengamalkan ilmunya itu,” ujar Ulul Azhar salah satu penduduk Desa Temboro.

Aktivitas masyarakat di Desa Temboro di Kabupaten Magetan, Jawa Timur yang dijuluki Kampung Madinah, selalu sunyi ketika azan berkumandang. nyaris seluruh warganya pergi ke masjid atau surau desa untuk beribadah. Ali salah satu pedagang baju  mengemasi barang dagangan mereka. Sejumlah pembeli juga bergegas menyelesaikan belanjaannya. Sejenak kemudian, suasana jalan desa yang ramai oleh lalu lalang orang perlahan mulai sunyi. “Kalau sudah azan jalan mulai sunyi, kami tutup sebentar untuk salat zuhur. Jam 1 nanti baru buka lagi,” ujar Ali.

Tak kalah menarik adalah aktifitas penduduk Kampung Madinah di sore hari menjelang adzan sholat magrib, masa menjelang berbuka puasa. penduduk Pondok Temboro yang diperkirakan sekeliling 20.000 jiwa tersebut tumpah ruah di Jl Madinah dan sekitarnya yang merupakan jalan primer Desa Temboro. Mereka berburu takjil untuk berbuka. “ Senang disini, suasananya seperti d Madinah, seluruh berpakaian muslim. Takjil disini juga banyak jenisnya, tak hanya kurma, banyak makanan dan minuman yang dapat kita beli untuk berbuka puasa,” ujar Muhamad Rasya Ramadhan salah satu santri yang sudah 2 thaun menjadi santri pondok.

Keramaian berburu takjil untuk berbuka puasa menurut Izah Turahmah berbeda dibandingkan hari normal. perempuan berpakaian burka yang menjual berbagai minuman buah dan jus tersebut mengaku di Bulan Ramddan keramian pembeli dapat 2 kali lipat dari hari biasanya. “ Hari biasanya kalau ramai dapat mendapat Rp 500.000 kalau Bulan Ramadhan seperti ini omsetnya dapat 2 kali lipat,” katanya.

Suasana berbeda akan kita temui ketika menjelang adzan Maghrib. Jalan primer yang tadinya  ramia oleh ribuan santri tiba tiba menjadi senyap. Hanya satu dua kendaraan yang terlihat lalulalang. seluruh khusuk dengan persiapan berbuka puasa dan sholat Maghrib.(Diskominfo / kontrib.skc / fa2 / IKP1)

Sumber berita

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here