Monday, May 25, 2026
Home Berita Magetan Kisah Bu Siti, Penjaga Aroma Rempah Tradisional di Pasar Magetan yang Terancam...

Kisah Bu Siti, Penjaga Aroma Rempah Tradisional di Pasar Magetan yang Terancam Punah!

0
2

Magetan – Pagi di Pasar Sayur Magetan. Bukan sekadar pagi biasa, tapi denyut nadi sebuah tradisi yang perlahan meredup. Suara pedagang bersahutan, bunyi plastik kresek, dan bau khas sayur mayur memang masih terasa. Namun, di balik hiruk pikuk yang menipu mata, ada sebuah kisah yang membuat hati terenyuh.

Di sudut yang tak terlalu mencolok, Bu Siti (nama disamarkan), seorang nenek paruh baya, duduk setia di depan lapak kecilnya. Tangannya cekatan merapikan serai, daun salam, daun jeruk, kunyit, lengkuas, hingga berbagai empon-empon yang tersusun rapi seperti merawat sebuah pusaka. Dari lapaknya, aroma rempah menyeruak kuat, membawa kita kembali ke dapur rumah nenek, masakan hajatan, dan racikan jamu tradisional yang menenangkan jiwa.

“Sekarang Sepi Sekali,” Bisiknya Lirih

Namun pagi ini, suasana berbeda. Lapak Bu Siti, si penjaga aroma rempah itu, terasa senyap. Tak banyak pembeli yang mampir. “Sekarang sepi sekali,” bisiknya lirih, sambil menata kembali bumbu racikan opor dan gulai yang tergantung rapi. Kata-kata sederhana itu adalah cerminan pahit dari perubahan zaman yang tak terhindarkan, ancaman nyata bagi pedagang rempah tradisional seperti dirinya.

Puluhan tahun Bu Siti setia di sini. Dulu, lapaknya selalu ramai. Terutama saat musim hajatan, warga berbondong-bondong mencari kunyit, jahe, kencur, serai, aneka bumbu dapur untuk pesta besar. “Kalau dulu orang hajatan masak sendiri, ramai. Pakai bumbu seperti ini,” kenang Bu Siti, matanya menerawang jauh ke masa lalu.

Tergusur Bumbu Instan dan Hajatan “Kering”

Tapi kini, semuanya berubah drastis. Banyak hajatan digelar lebih praktis, dengan katering atau bingkisan mie instan dan beras dibanding memasak besar-besaran. “Kalau sekarang banyak yang sederhana. Dikasih kering,” imbuhnya.

Parahnya lagi, gempuran bumbu instan dari toko modern dan minimarket semakin merajalela. Tinggal sobek kemasan, masakan pun jadi. “Sekarang banyak yang beralih ke bumbu instan. Kan simpel,” keluhnya. Sebuah pukulan telak bagi Bu Siti dan ratusan pedagang sepertinya.

Dampaknya? Pembeli kini tak lagi mencari rempah lengkap satu per satu. “Paling cuma serai, salam, daun jeruk,” katanya. Selebihnya? Sudah tersedia dalam kemasan racikan siap pakai. Namun, Bu Siti tak menyerah. Setiap pagi, ia tetap datang, membawa empon-empon segar dari pemasoknya, menata rapi dagangannya, dengan harapan sederhana agar pelanggan lama tetap datang, seperti dulu.

Harta Karun Pengetahuan dan Untung yang “Tipis”

Di sela obrolan, Bu Siti meraih rimpang kecil berwarna pucat. “Kalau dokter namanya kunir putih. Kalau orang Jawa bilang kunci pepet,” tuturnya dengan senyum tipis. Sebuah pengetahuan turun-temurun, harta karun yang ia dapat dari puluhan tahun bersahabat dengan rempah, kini terasa tak lagi dihargai.

Keuntungan yang didapat? Sungguh tak seberapa. Satu renteng bumbu racikan isi sepuluh bungkus ia beli Rp15 ribu, dijual Rp2 ribu per bungkus. Untungnya sangat tipis, nyaris tak berarti. Tapi bagi Bu Siti, ini bukan lagi soal uang semata. “Yang penting masih ada langganan,” ucapnya pelan, sorot matanya penuh harap. Ia menjaga lebih dari sekadar dagangan, ia menjaga sebuah ikatan.

Lapak kecil Bu Siti bukan hanya sekadar tempat berjualan rempah. Ia adalah monumen hidup, pengingat pilu akan tradisi yang perlahan memudar di tengah gemerlap modernisasi. Tentang dapur yang dulu semerbak aroma rempah segar, tentang kehangatan masakan yang diracik sepenuh hati, dan tentang tangan-tangan tulus seperti Bu Siti yang tak henti menjaga aroma masa lalu.

Akankah kita membiarkan aroma itu benar-benar hilang? Mari kita dukung, mari kita jaga, sebelum semua hanya tinggal kenangan.

Sumber Berita

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here