Menjelang peringatan Hari Raya Idul Adha, geliat ekonomi para pengrajin anyaman bambu di Magetan mengalami lonjakan drastis. Kebijakan ramah lingkungan yang melarang penggunaan kantong plastik sekali pakai untuk pembagian daging kurban, membawa berkah luar biasa bagi mereka. Salah satu yang paling diburu adalah besek bambu.
Berkah rutin tahunan ini dirasakan di sentra kerajinan anyaman bambu yang terletak di Desa Durenan, Kabupaten Magetan. Tak tanggung-tanggung, pesanan besek tradisional khas Desa Durenan ini melonjak hingga 100 persen dibandingkan hari biasa. Dan untuk permintaan tertinggi justru datang dari luar daerah, terutama Kabupaten Blora dan Kota/Kabupaten Madiun.
Indah (34), seorang pengrajin besek dari desa ini, mengaku bersyukur sekaligus kewalahan mengatur waktu produksi demi memenuhi pesanan yang datang bertubi-tubi.
“Alhamdulillah, jelang Idul Adha tahun ini orderan naik dua kali lipat, sampai 100 persen. Kalau hari biasa paling kirim beberapa ratus saja, sekarang permintaannya tembus ribuan besek,” ungkap Indah sembari menyelesaikan anyamannya.
Indah mengungkapkan, harga satu paket besek yang berisi 30 pasang (wadah dan tutup) kini mengalami kenaikan. Jika pada hari biasa dibanderol seharga Rp25.000, saat ini harganya naik menjadi Rp40.000 per 30 pasang.
Meski mengalami kenaikan sebesar Rp15.000, hal tersebut sama sekali tidak menyurutkan minat para pembeli. Permintaan pasar justru kian membludak mengalir tanpa henti.
Penggunaan besek bambu ini bukan sekadar mengikuti tren ramah lingkungan semata. Indah membeberkan bahwa wadah anyaman bambu tradisional ini memiliki keunggulan fungsional yang jauh lebih baik dibandingkan kantong plastik dalam menjaga kualitas daging kurban.
Besek bambu dinilai jauh lebih higienis, menjaga kualitas daging tetap segar karena memiliki sirkulasi udara yang baik, dan tentunya tidak mencemari lingkungan.
Menurut Indah, rongga-rongga kecil pada anyaman besek memberikan sirkulasi udara yang baik. Hal ini membuat daging kurban di dalamnya tidak mudah membusuk atau cepat apak akibat hawa panas yang terperangkap, seperti yang sering terjadi jika menggunakan plastik tertutup.
“Kelebihannya jika memakai besek itu dagingnya enggak mudah busuk karena ada sirkulasi udaranya. Terus air dari daging kurban itu bisa langsung meresap atau keluar lewat sela-sela anyaman, jadi dagingnya bisa cepat atus (kering dari sisa air/darah). Dagingnya jadi lebih segar dan bersih sampai di tangan warga,” jelas Indah secara detail.
Menariknya, banjiran pesanan yang diterima Indah dan pengrajin lainnya didominasi oleh pasar luar kota. Wilayah Blora dan Madiun menjadi pemesan terbesar.
“Pesanan paling tinggi dan beruntun ini datang dari Blora dan Madiun. Dari Blora aja sudah masuk pesanan 2000 pasang. Panitia kurban dari masjid-masjid besar di sana sudah memesan sejak sebulan lalu agar tidak kehabisan stok. Kami harus benar-benar berkejaran dengan waktu,” imbuh Indah.
Hadirnya besek sebagai pengganti kantong plastik bukan sekadar tren musiman, melainkan wujud nyata sinergi antara pelestarian lingkungan dan penguatan ekonomi kerakyatan (UMKM) di Magetan. Melalui pemanfaatan besek, perputaran uang tetap berada di tangan para pengrajin lokal seperti Indah.
Lonjakan pesanan jelang Idul Adha ini menjadi bukti nyata bahwa produk lokal seperti besek bambu Desa Durenan mampu menjawab tantangan pelestarian lingkungan. Momentum ini diharapkan tidak hanya menjadi tren musiman saat Idul Adha saja, melainkan menjadi awal kebangkitan yang berkelanjutan bagi sektor UMKM kerajinan anyaman bambu di Kabupaten Magetan. (Diskominfo / kontrib.tik / fa2 /






