MAGETAN, – Dunia digital kini bagaikan pedang bermata dua. Di satu sisi, ia menawarkan segudang manfaat dan kemudahan yang tak terhingga. Namun, di sisi lain, ia juga menyimpan potensi bahaya besar, terutama jika kita tak cakap menggunakannya. Ya, di tengah minimnya literasi digital, anak-anak dan generasi muda kita menjadi kelompok paling rentan terseret arus negatif teknologi. Literasi digital, ternyata, adalah kunci utama untuk kita bisa beradaptasi dan bertahan di era serba digital ini!
Kabar baiknya, di Magetan, kesadaran ini sudah membara! Dinas Arpus Kabupaten Magetan tak tinggal diam. Melalui program keren “Mbulan Ndhadhari” Episode 30, mereka menggebrak dengan tema yang sangat relevan: ‘Menyalakan Literasi di Bumi Mageti dengan Menguatkan Jiwa Generasi NKRI’. Acara yang digelar hari ini, Sabtu 16 Mei 2026, di Graha Pusat Literasi Magetan ini sukses mengumpulkan lebih dari 100 siswa dari jenjang SD hingga SMA, lengkap dengan guru pembimbing mereka. Berbagai OPD terkait seperti Dinas Dikpora, Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Ponorogo dan Magetan, Diskominfo, Dinas PPKB-PPPA, hingga Bakesbangpol Kab. Magetan turut serta, menunjukkan komitmen kolaboratif yang kuat.
Dua narasumber hebat hadir membagikan wawasan: Kolonel Dr. Harianto dari Direktorat Pencegahan BNPT RI, dan Supriyoko, seorang pegiat literasi sekaligus Guru Bahasa Jawa di SMPN 1 Parang Magetan.
Ancaman IRET Mengintai! Bagaimana Kita Melindungi Generasi Muda?
Kolonel Dr. Harianto tak main-main dalam paparannya. Ia menyoroti 4 tantangan besar di era digital yang sangat mengancam generasi muda kita: Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme, dan Terorisme (IRET). Serem, kan? Tapi jangan panik! Kolonel Harianto menekankan bahwa kita bisa membentengi diri dari ancaman ini melalui kerja sama kolaboratif semua pihak. Mulai dari peran penting keluarga (orang tua), lingkungan pendidikan (guru), pemerintah, hingga media dan dunia usaha, semua harus bersatu.
“Upaya pencegahan yang bisa kita lakukan bersama itu banyak,” jelas Kolonel Harianto. “Mulai dari transformasi wawasan kebangsaan, revitalisasi nilai-nilai Pancasila, moderasi agama, penguatan akar budaya bangsa, dan tentunya, butuh pembangunan kesejahteraan.” Ia menambahkan, kita memang tidak bisa menghindar dari derasnya laju era digital dan media sosial. Namun, yang paling penting adalah bagaimana kita mengambil sisi positifnya dan memanfaatkannya untuk menggali serta meningkatkan kemampuan diri. Sebuah pesan yang kuat untuk kita semua!
Bupati Magetan Turun Tangan! Gadget di Sekolah Dibatasi?
Sementara itu, Supriyoko, narasumber kedua, membongkar tuntas tantangan dan strategi implementasi dari Surat Edaran Bupati Magetan No.400.35/116/403.101/2026. Surat edaran ini isinya penting banget: pembatasan penggunaan telepon seluler (ponsel) di lingkungan pendidikan (PAUD, SD/MI, SMP/MTS, dan pendidikan non-formal) di seluruh Kabupaten Magetan.
Kebijakan ini diharapkan bisa jadi jawaban atas kekhawatiran kita selama ini terhadap maraknya penyalahgunaan gadget dan media sosial di kalangan anak didik. “Namun, tetap perlu kearifan bersama untuk memaknai pemanfaatan gadget secara dewasa dan bertanggung jawab,” kata Supriyoko. Ia mengingatkan, teknologi digital tidak selamanya negatif jika literasi digital kita tinggi. Justru, dengan kemajuan teknologi, kita bisa menciptakan karya-karya produktif dan inovatif!
Komitmen Kuat untuk Literasi Digital Magetan!
Acara ini ditutup dengan sesi tanya jawab yang interaktif. Kepala Dinas Arpus Kab. Magetan, Endang Ambarwati, menunjukkan komitmennya yang luar biasa. Ia siap menjalin kerja sama erat dengan Dinas Dikpora Kab. Magetan melalui berbagai kegiatan kolaboratif antar dinas. Fokusnya jelas: meningkatkan literasi digital para siswa melalui berbagai layanan perpustakaan yang ada.
Sungguh langkah maju yang patut diapresiasi! Dengan penguatan literasi digital, Magetan berupaya keras melahirkan generasi muda yang cerdas, produktif, dan berjiwa NKRI di era serba digital ini. Jadi, mari kita dukung bersama, karena masa depan anak-anak kita ada di tangan kita!






