Thursday, April 16, 2026
Home Berita Magetan Renyahnya Kerupuk Ubi Oranye Lis Magetan, Berbuah Manisnya Gelar Sarjana

Renyahnya Kerupuk Ubi Oranye Lis Magetan, Berbuah Manisnya Gelar Sarjana

0
13

Di balik renyahnya kerupuk yang sering kita santap, ada perjuangan keringat yang tak main-main. Di sebuah sudut desa Jati Kabupaten Magetan , sosok perempuan tangguh bernama Lis (54) membuktikan bahwa dari butiran tepung tapioka, ia bisa merajut masa depan yang cerah bagi keluarganya.

Tak tanggung-tanggung, usaha yang dirintisnya sejak tahun 2012 ini kini telah berkembang konsisten hingga mampu memproduksi 5 kuintal atau 500 kilogram kerupuk setiap harinya.

Berbisnis kerupuk selama lebih dari satu dekade tentu bukan tanpa tantangan. Lis sadar betul bahwa dinamika persaingan antar pengusaha kerupuk semakin ketat. Tak ingin usahanya tergerus zaman, ia pun meluncurkan inovasi unik: kerupuk campuran ubi.

Namun, di balik warna oranye yang cantik itu, ada proses panjang yang tidak instan. Lis mengaku sempat mengalami kegagalan berulang kali saat mencoba mencampurkan ubi ke dalam adonannya di awal masa percobaan.

“Awalnya itu gagal berkali-kali. Kadang adonannya tidak mau menyatu, kadang setelah digoreng malah bantat atau tidak mekar,” kenang Lis

Ia tidak menyerah begitu saja. Rupiah demi rupiah modal ia relakan untuk terus mencoba hingga akhirnya ia menemukan komposisi yang pas antara tepung tapioka dan ubi lokal  yang didapat dari petani Magetan.

“Setelah ketemu takarannya, baru hasilnya bisa renyah dan warnanya alami. Sekarang malah punya penggemar tersendiri,” tambahnya.

Kini, di hamparan jemurannya, mata akan dimanjakan dengan pemandangan dua warna yang kontras.

Ada varian original berwarna putih bersih, dan varian oranye hasil inovasi ubi khas kabupaten Magetan. Strategi ini terbukti ampuh membuka pangsa pasar baru di tengah ketatnya persaingan pengusaha kerupuk yang kian dinamis.

Bagi Lis, matahari adalah mesin produksi alami yang paling berharga. Saat cuaca cerah, ia memastikan 5 kuintal kerupuk dari kedua varian tersebut kering sempurna untuk didistribusikan ke pasar-pasar tradisional hingga pelanggan di luar kota.

Keberhasilan memproduksi 5 kuintal sehari memang luar biasa bagi usaha skala menengah. Namun bagi Bu Lis, ada kebanggaan yang jauh lebih besar daripada sekadar angka omzet harian.

Dari hasil “menggoreng” nasib dan berinovasi dengan campuran ubi ini, ia berhasil mengantarkan anak-anaknya duduk di bangku universitas.

 Biaya kuliah, uang semesteran, hingga biaya wisuda, semuanya lunas terbayar dari gurihnya keuntungan butiran kerupuk tersebut.

Melihat anaknya mengenakan toga sarjana adalah puncak kebahagiaan bagi Lis. Baginya, pendidikan adalah warisan terbaik yang bisa ia berikan agar anak-anaknya memiliki masa depan yang lebih kokoh.

“Harapannya ya anak-anak punya nasib lebih baik dari saya. Kalau ibunya bisa jualan kerupuk, anaknya harus bisa sekolah lebih tinggi,” pungkasnya dengan nada optimis.

Setiap keping kerupuk oranye yang renyah di tangan konsumen, kini bukan sekadar camilan, melainkan simbol kreativitas dan ambisi seorang ibu yang tak pernah padam oleh terik matahari.(Diskominfo / kontrib.tik / fa2 /

Sumber Berita

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here