Masyarakat Kota Magetan mungkin tidak menyadari bahwa sebenarnya ada sosok anak muda yang boleh dikatakan genius dengan penampilannya yang sederhana dan kalem. Bernama lengkap Adam Febranzah, M.T, M.Eng, M.M dan biasa dipanggil Mas Adam oleh para sahabat dan keluarganya. Cowok berpostur tinggi ini dilahirkan di Magetan pada bulan Februari 1993.

Cowok tampan yang super cerdas ini merupakan putra pertama dari Bapak Suhargo dan Ibu Rochma Susari yang beliau berdua sudah dikenal baik oleh masyarakat Magetan karena berprofesi sebagai pengusaha kondang di tanah air.

Hal yang belum banyak diketahui oleh masyarakat Magetan, di usianya yang masih muda, Mas Adam ternyata seorang young inventor (penemu muda) di bidang teknologi terapan. Sudah banyak temuan atas berbagai rekayasa teknologi ciptaannya telah mendapat hak paten di tingkat nasional maupun internasional khususnya pada bidang waste management, saving energy, sustainable environment dan mechanical engineering.

Setelah lulus dari SMA Negeri 1 Magetan, Mas Adam melanjutkan kuliah untuk program sarjananya dari Institut Teknologi 10 November Surabaya dan setelah berkesempatan untuk menempuh studi pasca sarjananya di bidang teknik dengan mengambil program double degree di Universitas Kumamoto, Jepang. Hobinya sangat beragam. Mulai dari permainan catur, berenang, melakukan berbagai eksperimen, riset, membaca buku, berkebun, dan tentu saja menulis jurnal ilmiah.

Harapan terbesar dalam hidupnya di masa depan harus diwujudkan melalui jalan kontribusi gagasan (ilmu), dan finansial atau ekonomi (harta) sebagai bentuk kewajiban dirinya. Semua itu harus dijalani olehnya dengan senang hati untuk memberikan kontribusi kebermanfaatan bagi masyarakat, pemerintah, dan generasi selanjutnya dalam bentuk karya nyata yang abadi sampai menembus lintas zaman.
Berbagai kesulitan pernah dihadapi oleh Mas Adam dalam upaya menerapkan penemuanmu di berbagai kota dan daerah di tanah air. Namun bagi dirinya, mungkin lebih tepatnya dianggap sebagai sebuah tantangan. Semua tantangan itu terletak pada aspek teknis, finansial, dan juga pada proses sosialisasi hasil penemuannya. Bahkan semua pemikirannya itu pernah dituangkan dalam Buku Panduan Proyek Efisiensi Energi dan Peraturan Pemerintah No 33 tahun 2023 tentang Konservasi Energi oleh Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), di Bogor (IPB International Concention Center).
Menurut pendapatnya, aspek teknis dan finansial adalah hal yang saling berkaitan dimana pengembangan sebuah telnologi atau desain tidak langsung bisa sempurna di proses awalnya, sehingga perlu disempurnakan atau dibuat versi generasi terbarunya dan hal itu memerlukan biaya dan waktu (time value of money) untuk membeli bahan dasar dan proses mendesain ulang penemuannya.
Indeks kesuksesan penemuan baru pada tahap awal, biasanya yang paling penting adalah dapat bekerja dengan baik meskipun masih belum sempurna dari sisi keandalan dan efisiensi (mindset efisiensi segala aspek). Oleh karena itu, perlu dilakukan pengujian terus menerus dan desain ulang sebagai penyempurnaan. Pada bagian inilah yang menguras biaya, tenaga dan pikiran bagi Mas Adam akan karya inovasinya di balik hak paten yang dimilikinya.
Baginya, penemuan demi penemuan telah menjadi serangkaian kumpulan metode dan sistem teknologi yang saling terkait terutama saat harus menjadi sangat efisien untuk menghemat energi listrik saat diimplementasikan secara terintegrasi. Kemudian serangkaian metode dan sistem teknologi ini, menjadi sebuah model bisnis total solusi efisiensi energy All in One Energy Solutions, yang memungkinkan pengguna energi menghemat energi tanpa perlu berinvestasi (zero capital expenditure). Total solusi ini disebut layanan Energy Savings Performance Contract (ESPC) yang hanya bisa dilaksanakan oleh Energy Service Company (ESCO).
Di dalam proses sosialisasi total solusi All in One Energy Solutions dengan skema ESPC, masih banyak pengguna energi (users) sejak tahun 2004 sampai saat ini (2026) yang sudah familiar dengan skema ESPC ini. Oleh karena itu, Mas Adam bersama timnya berusaha melakukan sosialisasi intensif ke berbagai pemerintah daerah di seluruh Indonesia, dan hasilnya skema ESPC ini dinilai baik, meskipun belum familiar hanya dalam cara implementasinya.
Sampai saat ini, hanya 10% total keikutsertaan pemerintah daerah di tanah air yang telah bersedia dan berhasil mengimplementasikan karya penghematan energi khususnya penekanan beban biaya listrik untuk penerangan jalan umum (PJU), penghematan biaya pada proses waste management pengolahan limbah sampah dan pada karya-karya inovasi temuan yang diciptakan oleh Mas Adam karena telah berhasil menghemat energi sebesar 417 juta kwh atau setara 360.000 ton emisi karbon dioksida (CO2).
Jika karya inovasi Mas Adam ini dapat diterapkan di seluruh pemerintah daerah di Indonesia, bisa diproyeksikan akan dapat menghemat anggaran APBD atau APBN sampai dengan 2.2 Triliun per tahun. Namun hal ini tergantung dari good will (niat baik) dan strong will (niat kuat) dari pemangku dan pembuat kebijakan di birokrasi di pemerintahan daerah itu sendiri, apakah bersedia melakukan penghematan besar pada APBDnya dengan menggunakan karya inovasi Mas Adam yang sudah dipatenkan ini Itulah tantangan terberat dan proses perjuangan panjang bagi Mas Adam demi efisiensi dan penghematan pengeluaran kas pemerintah daerah atau negara.
Menurutnya, satu hal motivasi terkuata dalam inovasi adalah dari sisi psikologi, yaitu membuat sebuah penemuan seperti halnya mengekslorasi hutan belantara untuk membuat peta baru yang belum dijelajahi. Risiko ketidakpastian tanpa hasil yang pasti (probability), dan energi yang terkuras (stress), mampu melaluinya dengan ketangguhan (resilience) menjadikan proses sebuah inovasi ini menjadi satu kepuasaan tersendiri ketika melihat sebuah peta hutan baru mampu memberikan manfaat bagi para penjelajah bagi generasi selanjutnya.
Itulah hasil wawancara dengan Mas Adam setelah pulang dari Kementerian ESDM Jakarta dan bertemu dengan berbagai pakar energi seperti Prof Hisato Saitoh (Kumamoto University, Japan) dan Dr. Mounira Chelbi-Alix (Universite Paris Descartes, France) serta Mr.Thomas dari ESCO. Semua itu berkat karya-karya inovasi Mas Adam, arek Magetan yang luar biasa dan mendunia akan penemuan hebatnya di bidang penghematan energi listrik dan pengolahan limbah sampah yang ramah lingkungan. (eaw)



