Warga Desa Bogoarum Kecamatan Plaosan Kabupaten Magetan, Jawa Timur mempunyai cara unik mengajak warga mengelola sampah. Tak hanya lansia, bahkan balita sudah terlibat dalam pengelolaan. Inisiator Bank Sampah Dompong Desa Bogoarum Ice Widyawati mengatakan, keterlibatan balita dalam pengelolaan sampah berawal dari kegiatan posyandu di desanya dengan melibatkan ibu ibu untuk turut serta menjaga kebersihan lingkungan. “ Jadi pas kegiatan posyandu itu para ibu ibu membawa sampah untuk dikonversi menjadi tabungan atas nama anak mereka. Setiap balita itu punya celengan di posyandu,” ujarnya ditemui di sela sela kegiatan peringatan hari peduli sampah Sabtu (26/02/2022).
Sukartini ketua bank sampah balita Karanglo Desa Bogoarum yang memiliki 40 balita mengaku ibu ibu bersemangat dengan kegiatan bank sampah saat kegiatan posyandu. Mesti tak banyak tabungan hasil dari pengumpulan sampah selama 5 tahun, namun warga sadar kebersihan lingkungan didesanya lebih penting bagi anak anak mereka. “ Lima tahun yang lulus posyandu bisa dapat Rp 500.000. Namanya ibu ibu uang itu biasanya dipaki untuk kebutuhan mendaftar di pendidikan paud,” katanya.
Berawal dari sungai yang kotor.
Ice Widyawati mengaku menggagas bank sampah Dompong berawal dari tahun 2012 dimana sungai didesanya banyak sekali dipenuhi sampah karena warga desa juga turut membuang sampah disungai. Padahal sungai didesanya dimanfaatkan untuk keperluan pengairan sawah dan keperluan lainnya seperti mandi dan mencuci. Untuk merubah kebiasaan warga dia mengaku turun tangan sendiri mengumpulkan sampah yang ada sambil memberikan edukasi kepada warga akan pentingnya mengelola sampah.” Pertama ya turun tangan sendiri sambil meminta warga mengumpulkan sampah, nanti kita yang ambil setiap minggu,” ucapnya.
Pada bulan pertama mengumpulkan sampah, Ice megaku berhasil mengumpulkan uang sampai Rp 800.000 dari penjualan ke pengepul sampah di lingkungan RT nya. Uang tersebut diserahkan semua sebagai kas lingkungan RT. Dari kas tersebut kemudian dibelikan sejumlah kebutuhan social warga seperti tong sampah sampai kebutuhan peralatan hajatan warga hingga penerangan jalan. “ Dari situ warga mulai faham kalau sampah itu membantu mereka. Mereka tidak harus mengeluarkan uang untuk kebutuhan lingkungan,” imbuhnya.
Maka pada tahun tersebut Ice kemudian mendirikan Bank Sampah Dompong dengan cakupan kawasan lebih luas lagi. Setelah seluruh warga memiliki tong sampah di depan rumah masing masing, melalui rapat lingkungan warga menerapkan aturan denda bagi tong sampah dirumah warga tidak didapati sampah saat relawan mengambil sampah. “ Dendanya hanya seribu, tapi efeknya warga akhirnya memilih memungut sampah di jalan desa lain yang mereka temukan,” ujar Ice tersenyum mendengar pengakuan warga.
Meski sungai yang melintasi didesanya belum sepenuhnya bersih dari sampah saat ini karena aliran di hulu singai masih membawa sampah, warga justru mendapat berkah dengan sampah yang dibawa aliran sungai. “ Karena warga sudah tahu kalau sampah laku dan lingkungan bersih, mereka bawa pulang sampah yang ditemukan di selokan atau sungai saat mereka mengairi sawah mereka,” kata Ice.
Siswa paud hingga lansia menikmati hasil sampah.
Tak hanya balita, siswa sekolah di SDN Bogoarum juga tak ketinggalan ikut mebersihkan lingkungan dari sampah yang mereka pungut. Setiap hari Jumat 80 siswa SDN Bogoarum mengumpulkan sampah ke sekolah baik sampah organic maupun sampah plastik. Sebagian sampah plastic bahkan dimanfaatkan untuk ketrampilan membuat roket. “ Kita punya komposter untuk mengolah sampah organik, yang plastic sebagian kita buat bahan ketrampilan sebagian kita tukar menjadi taman gizi oleh bank sampah,” ujar Kepala Sekolah SDN Bogoarum Sundarto.
Tak hanya siswa SD, siswa paud yang sekolahnya bersebelahan dengan SDN Bogoarum juga terlibat dalam pengelolaan sampah. Belasan siswa paud tersebut akan membawa sampah ke sekolah dan akan mendapat makanan bergizi. “ Menunya macam macam, ada kacang ijo, kadang puding, kadang susu segar, yang tidak ketinggalan telur rebus,” ujar Ayu pengelola SPS Pelangi Desa Bogoarum.
Hasil pengelolaan sampah Bank Sampah Dompong ternyata juga dinikmati oleh kelompok remaja di Desa Bogoarum. 30 remaja yang tergabung dalam PIK R Desa Bogoarum saat ini memiliki kegiatan main band dan kegiatan social dari hasil mengumpulkan sampah. Pun dengan lansia di Desa Bogoarum, melalui posyandu lansia, Bank Sampah Dompong menyediakan jamu untuk para lansia. “ Lansia itu sukanya jamu. Lagi pula di posyandu lansia gizinya sudah dicukupi makanya kita sajikan jamu untuk mereka,” kata Ice Widyawati.
Pemkab Magetan akan bidik pengelolaan sampah melalui bank BPRS.
Saat ini Desa Bogoarum mempunyai 4 bank sampah di 14 RT yang ada, ditambah bank sampah dari balita dan bank sampah remaja. Perputaran uang dari bank sampah di Desa Bogoarum mencapai Rp 400.000 perbulan untuk setiap bank sampah. Bupati Magetan Suprawoto mengaku akan berupaya mengembangkan potensi pengelolaan keuangan bank sampah dengan menggandeng mereka bekerjasama dengan bank mili pemerintah daerah. “ Kita akan coba untuk melakukan kerjasama antara bank sampah dengan bank BPRS milik pemerintah daerah. Ini langkah bagus untuk mendorong bank sampah bisa lebih maju,” ujarnya.(Diskominfo/kontrib.rif/fa2/IKP1)



