Sunday, May 10, 2026
Home Berita Magetan Kerupuk Telur Asin Mbak Supriyati Menembus Pasar Luar Negeri

Kerupuk Telur Asin Mbak Supriyati Menembus Pasar Luar Negeri

0
2

Di sebuah rumah sederhana di Watu Garit, Desa Ndurenan, aroma gurih telur asin menguar dari dapur kecil milik Mbak Supriyati. Perempuan 36 tahun itu tak pernah menyangka, dari kebingungan karena tak punya pekerjaan, justru lahir usaha kerupuk telur asin yang kini menembus pasar luar negeri.

“Awalnya nggak ada kerjaan, bingung mau bikin apa di rumah,” kata Supriyati sambil tersenyum. Dari kegelisahan itulah ia mulai bereksperimen di dapur. Pilihannya jatuh pada kerupuk telur asin – makanan yang menurutnya sederhana, tapi punya peluang.

Ia mengaku memilih produk ini karena prosesnya relatif mudah dan didukung kondisi lingkungan sekitar. “Mudah, tempat jemurnya juga ada,” ujarnya. Di desa tersebut, sinar matahari melimpah menjadi “alat produksi” utama untuk mengeringkan kerupuk sebelum digoreng.

Proses pembuatannya pun masih sangat tradisional. Tepung, telur asin, bawang, dan garam menjadi bahan utama. Kuning dan putih telur dipisahkan, lalu dihaluskan bersama bumbu, sebelum dicampur dengan tepung dan diolah menjadi adonan.Adonan itu kemudian dikukus, didinginkan, dan disimpan semalaman di dalam kulkas. Keesokan harinya, barulah adonan diiris tipis-tipis dan dijemur di bawah terik matahari hingga kering. “Kalau hari ini bikin, besok ngiris sama jemur. Jadi nggak bisa tiap hari produksi,” jelasnya.

Dalam satu kali produksi, Supriyati menghabiskan 3 hingga 6 kilogram bahan. Namun karena prosesnya berjenjang dan tenaga terbatas (hanya ia dan ibunya) produksi dilakukan dua hari sekali.

Meski dikerjakan dengan peralatan sederhana, hasilnya mulai dilirik pasar. Kerupuk buatannya kini dipasarkan ke berbagai daerah, termasuk kawasan Temboro yang dikenal sebagai pusat pondok pesantren. “Paling banyak ke luar, ke pondok-pondok,” katanya.

Tak hanya itu, pemasaran juga merambah jalur online. Bahkan, pesanan pernah datang dari luar negeri. “Pernah ke Hongkong,” ujarnya singkat, namun penuh makna.

Harga produknya pun cukup terjangkau. Kerupuk siap goreng dijual Rp5.000 untuk kemasan kecil 50 gram, dan Rp10.000 untuk ukuran lebih besar. Sementara untuk produk mentah, ia membanderol Rp70.000 per kilogram.

Di balik kesederhanaan itu, Supriyati menyimpan harapan besar. Ia ingin usahanya terus berkembang dan menjangkau pasar yang lebih luas. Namun, ada satu kendala yang masih menghambat: keterbatasan alat produksi.“Yang jadi kendala itu peniris minyak. Biar kerupuknya nggak terlalu berminyak,” ungkapnya. Ia berharap suatu saat bisa memiliki mesin peniris agar kualitas produknya semakin baik dan produksi lebih efisien.

Dari dapur kecil di desa, Supriyati membuktikan bahwa usaha rumahan pun bisa melangkah jauh. Dengan ketekunan dan keberanian mencoba, kerupuk telur asin buatannya tak hanya menghidupi keluarga, tetapi juga membawa cita rasa lokal menyeberang hingga ke negeri orang.(Diskominfo / kontrib.skc / fa2 /

Sumber Berita

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here