Tuesday, April 28, 2026
Home Artikel Magetan Cerita Mbak Indah Menjaga Napas Besek di Dusun Selunggu

Cerita Mbak Indah Menjaga Napas Besek di Dusun Selunggu

0
2

Di sudut tenang Desa Durenan, Kecamatan Sidorejo, Kabupaten Magetan  suara “krek…krek…”  bambu yang dianyam terdengar nyaris tanpa henti. Di sanalah Mbak Indah duduk bersila, tangannya lincah menari di antara bilah-bilah bambu yang telah diraut tipis. Dari jemarinya, lahir besek, wadah tradisional yang kini menemukan kembali denyut hidupnya di tengah perubahan zaman.

Usaha ini bukan hal baru bagi Mbak Indah. Ia sudah menekuninya sejak puluhan tahun lalu, mengikuti jejak para perempuan di kampungnya yang menggantungkan hidup dari anyaman bambu.

 “Mayoritas di sini memang bikin besek,” ujarnya. Dulu, bentuknya sederhana—kotak polos tanpa variasi. Namun waktu mengubah segalanya, termasuk cara orang memandang besek.

Momentum tak terduga datang saat pandemi COVID-19 melanda. Ketika hajatan tak lagi bisa digelar dengan makan di tempat, besek justru menjadi pilihan utama sebagai wadah makanan yang dibawa pulang. “Waktu korona itu malah rame,” kata Mbak Indah. Dari situlah, inovasi mulai tumbuh.

Permintaan konsumen yang semakin beragam mendorong perubahan desain. Tak lagi sekadar kotak, kini besek hadir dengan pegangan, warna-warni cerah, hingga model jinjing yang lebih modern. “Customer lihat di gambar, terus request. Kita ya belajar juga,” katanya. Saat ini, ia telah membuat lebih dari tujuh desain berbeda—masing-masing dengan tingkat kerumitan yang berbeda pula.

Salah satu yang paling sulit adalah besek kecil dengan pegangan. Bukan karena bahan, melainkan detail anyaman pada tali yang membutuhkan ketelitian ekstra. “Rumit di pegangannya,” ucapnya singkat. Namun menariknya, meski lebih sulit, harga jualnya justru lebih murah—sekitar Rp4.000 per buah. Pertimbangannya sederhana: agar tetap laku di pasaran.

Di sisi lain, besek ukuran besar atau desain khusus bisa dihargai hingga Rp20.000 lebih, tergantung bentuk dan tingkat kesulitan. “Sebenarnya bahannya sama, tapi desainnya yang bikin beda harga,” jelasnya.

Dalam sehari, Mbak Indah bisa memproduksi puluhan besek, tergantung jenisnya. Untuk pesanan khusus, produksi dilakukan berdasarkan permintaan. Ia juga tak bekerja sendiri—hasil anyaman dari tetangga sekitar turut ia tampung, menjadikannya semacam pengepul kecil di kampungnya.

Bambu sebagai bahan utama pun mudah didapat. Kadang ia membeli, kadang mengambil sendiri dari kebun bambu di sekitar desa. Ketersediaan bahan ini menjadi salah satu alasan mengapa kerajinan besek tetap bertahan di wilayah tersebut.

Tak hanya berhenti di pasar lokal, besek buatan Mbak Indah juga telah menembus pasar luar daerah. Bahkan, pesanan pernah datang dari Makassar. Penjualan dilakukan secara langsung maupun melalui platform online, membuka peluang lebih luas bagi produk tradisional ini untuk dikenal lebih jauh.

Dalam pengiriman, besek dikemas sederhana, dimasukkan ke dalam karung besar, namun tetap aman sampai tujuan. Warna dan model pun bisa disesuaikan dengan permintaan pembeli, dari merah, hijau, hingga kombinasi warna-warni yang menarik.

Di tengah gempuran kemasan modern berbahan plastik, besek tetap punya tempat tersendiri. Ia bukan sekadar wadah, tapi juga simbol kearifan lokal—ramah lingkungan, bernilai budaya, dan menghidupi banyak tangan di desa.

Bagi Mbak Indah, menganyam bukan hanya soal pekerjaan, tapi juga menjaga warisan. Di setiap helai bambu yang ia rangkai, tersimpan cerita tentang ketekunan, adaptasi, dan harapan—bahwa tradisi tak akan pernah benar-benar usang, selama masih ada yang setia merawatnya.(Diskominfo / kontrib.skc / fa2 /

Sumber Berita

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here