Abhie Mustajab tidak pernah menyangka bahwa masa depannya akan dirakit dari potongan besi tua dan mesin bekas.
Di saat toko busana muslimnya sudah aman dikelola sang istri, pria 36 tahun ini memilih berkawan dengan percikan api las dan tumpukan spare part mobil.
Dari kegelisahan melihat luasnya geografis Temboro, sang alumni pesantren ini mengubah kebingungannya menjadi puluhan unit bentor yang kini hilir mudik menghubungkan pasar dengan bilik-bilik pesantren.
Tujuh tahun silam, Abhie berada di persimpangan jalan. Sebagai kepala keluarga, ia sempat dilanda kebuntuan mengenai arah usahanya ke depan. “Awalnya saya bingung mau usaha apa lagi. Toko baju sudah dipegang istri,” ujarnya.
Namun, mata seorang alumni tidak pernah benar-benar buta terhadap denyut nadi almamaternya. Menatap ribuan santri yang tumpah ruah di jalanan Desa Temboro,yang kini dijuluki “Madinah van Java”, Abhie menangkap sebuah tantangan besar , yaitu jarak.
dengan puluhan kompleks pesantren yang tersebar luas dan pusat bisnis (pasar) yang terkonsentrasi di satu titik, berjalan kaki bukan lagi pilihan yang efisien.
Dari obrolan santai bersama rekan pedagang dan santri, sebuah ide muncul. Temboro butuh alat transportasi yang khas, tangguh, namun tetap murah bagi kantong santri.
Akhirnya muncullha ide untuk membuat bentor, bentor atau becak motor mungkin terdengar unik. Kendaraan ini adalah sebuah hibrida transportasi yang mengawinkan kelincahan sepeda motor dengan kapasitas angkut becak tradisional.
Untuk membangun satu unit bentor bagi Abhie adalah proses kurasi teknik yang panjang. Ia terjun langsung dalam setiap tahap, mulai dari memburu motor bekas yang masih bertenaga, mencari onderdil mobil untuk memperkuat kaki-kaki, hingga melakukan pengelasan rangka secara presisi.
“Untuk membuat satu unit bentor, saya memerlukan waktu sekitar satu bulan jika semua perlengkapannya sudah tersedia. Bagian yang paling sulit adalah mencari spare part mobil untuk rangkanya, karena kekuatan dan keseimbangan bentor ada di sana,” ungkapnya.
Meski tampilannya tradisional, bentor karya Abhie mengadopsi sistem transportasi modern layaknya taksi kota. Di setiap unit bentor yang ia lahirkan, tersemat angka atau nomor lambung yang mencolok. Bagi Abhie, angka-angka itu bukan sekadar hiasan atau urutan produksi.
“Setiap bentor ada nomor lambung. Tujuannya jelas, untuk mempermudah penumpang dan pengelolaan. Kalau ada penumpang yang barangnya ketinggalan atau hilang, mereka cukup ingat nomor bentornya saja. Dengan begitu, pelacakan jadi jauh lebih mudah ” jelasnya.
Saat pesanan mulai membeludak, Abhie biasanya dibantu oleh seorang keponakannya. Untuk satu unit bentor hasil rakitannya, ia mematok harga di kisaran Rp15 juta hingga Rp25 juta, tergantung pada spesifikasi dan tingkat kerumitan modifikasinya
Namun, di balik angka-angka tersebut, Abhie dan teman-teman sesama perkantoran bentor memegang teguh sebuah prinsip ideologis.
Ia menegaskan bahwa usaha pembuatan ini harus tetap berada di tangan warga asli. “Bentor ini harus dibuat oleh orang asli Temboro. Walaupun lokasi bengkel atau pembuatannya mungkin tidak di dalam desa, pemilik usahanya wajib putra daerah,” tegas pria berusia 36 tahun ini.
Bagi Abhie, ini bukan sekadar bisnis, melainkan soal menjaga rasa memiliki (sense of belonging) dan tanggung jawab moral terhadap tanah kelahiran.
Kini, tujuh tahun telah berlalu. Puluhan bentor karya Abhie Mustajab telah mengaspal, menjadi saksi pertumbuhan ekonomi dan pendidikan di Temboro, menyambung silaturahmi dan memudahkan langkah para penuntut ilmu di setiap sudut desa.(Diskominfo / kontrib.tik / fa2 /



