Di sebuah rumah produksi sederhana di Desa Milangasri, Kecamatan Panekan, Kabupaten Magetan, aroma pisang goreng bercampur wangi wijen memenuhi udara. Beberapa pekerja terlihat sibuk menggulung adonan tipis seperti kulit lumpia, mengisi potongan pisang, lalu menggorengnya hingga renyah berwarna keemasan. Dari tempat inilah lahir salah satu camilan yang mulai dikenal sebagai kue khas Magetan: pisang gulung wijen.
Di balik usaha tersebut berdiri sosok perempuan tangguh bernama Lili Rusmiata, pemilik UMKM Berkah Ridho yang merintis usaha ini sejak tahun 2014. Awalnya, usaha tersebut lahir dari ide sederhana. “Anak-anak di rumah suka makan pisang. Tapi kalau hanya digoreng biasa kan bosan. Dari situ saya mencoba membuat bentuk yang berbeda,” cerita Lili.
Dari dapur rumahnya, ia mulai bereksperimen dengan cara baru menikmati pisang. Ide kecil itu kemudian menjadi awal perjalanan panjang sebuah usaha.
Berbeda dari pisang goreng biasa, Lili mencoba membuat variasi dengan membungkus potongan pisang menggunakan kulit tipis seperti lumpia. Pisang tersebut kemudian digulung dan diberi tambahan gula sebelum digoreng.Hasilnya adalah camilan renyah dengan sensasi manis di bagian tengah. “Biasanya orang makan pisang goreng. Saya ingin membuat cara makan yang berbeda,” ujarnya.
Tidak berhenti di situ, Lili kemudian mengembangkan beberapa produk lain seperti kacang gulung wijen, kacang caramel, pisang caramel. Salah satu produk uniknya adalah kacang gulung wijen, yang dahulu dikenal masyarakat dengan nama kacang sembunyi. Namun Lili memberi sentuhan baru. Nama baru itu membuat produknya memiliki identitas tersendiri. “Karena prosesnya digulung dan ada wijennya, akhirnya kami beri nama kacang gulung wijen,” katanya.
Usaha Berkah Ridho berdiri sejak tahun 2014. Dalam perjalanan lebih dari satu dekade, Lili mengalami berbagai tantangan. Pemasaran yang naik turun, persaingan usaha, hingga perubahan harga bahan baku menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Namun ia memilih tetap bertahan. “Namanya usaha pasti ada pasang surut. Tapi dengan ketekunan dan kesabaran, alhamdulillah usaha ini masih bisa berjalan sampai sekarang,” ungkapnya.
Kini, usaha rumahan itu berkembang pesat. Dalam sehari, produksinya bisa mencapai 1.000 hingga 1.500 pack dari berbagai produk camilan. Jika dihitung dalam sebulan, jumlah produksi bisa mencapai sekitar 45.000 pack. Angka tersebut menunjukkan bahwa usaha kecil yang dulu dimulai dari dapur kini telah berkembang menjadi produksi skala UMKM yang cukup besar. “ Dalam sehari bisa 1.500 pek untuk 3 produk. Untuk satu bulan bisa dikalikan sendiri,” ujarnya tertawa renyah.
Bulan Ramadan menjadi masa paling sibuk bagi UMKM Berkah Ridho. Permintaan camilan meningkat tajam karena banyak masyarakat membeli untuk sajian berbuka puasa maupun oleh-oleh Lebaran. Tahun ini, peningkatan permintaan bahkan mencapai angka yang cukup signifikan. “Alhamdulillah ada kenaikan sekitar 40 persen untuk beberapa produk unggulan,” kata Lili.
Selain camilan utama, ia juga memproduksi berbagai jenis kue kering khusus Ramadan, seperti nastar, nanas, nastar kurma, kastengel, coklat mente. Total ada sekitar tujuh jenis kue kering yang diproduksi selama bulan puasa. Meski bahan baku mengalami kenaikan harga, Lili tetap menjaga harga produknya agar tetap terjangkau. “Untuk pisang karamel misalnya masih di kisaran Rp9 ribu sampai Rp10 ribu per pack. Kita tidak berani menaikkan harga meski sejumlah bahan pokok naik. Untung sedikit tidak apa apa yang penting usaha lancar,” jelasnya.
Di balik produksi besar tersebut, kebutuhan bahan baku juga sangat tinggi. Produk pisang gulung wijen menggunakan jenis pisang Raja Nangka yang dikenal memiliki rasa manis dan tekstur yang cocok untuk digoreng. Pisang tersebut didatangkan dari daerah Lamongan dan Boyolali melalui 2 pemasok yang rutin mengirim pisang ke Magetan. “Kalau dari Magetan ada, tapi jumlahnya terbatas. Jadi kita ambil dari Lamongan dan Boyolali,” ujar Lili.
Dalam satu minggu, kebutuhan pisang bisa mencapai sekitar 1,5 ton. Selain itu, tantangan lain datang dari kenaikan harga bahan baku seperti gula. Namun ia tetap berusaha mempertahankan harga jual agar pelanggan tidak terbebani. “Harga gula sekarang sudah hampir Rp850 ribu per sak. Normalnya sekitar Rp750 ribu,” katanya.
Kesuksesan UMKM Berkah Ridho kini tidak hanya memberikan manfaat bagi keluarga Lili, tetapi juga bagi masyarakat sekitar. Saat ini, usaha tersebut mempekerjakan sekitar 25 karyawan, termasuk pekerja tambahan saat musim ramai seperti Ramadan. “Sekarang ada penambahan karyawan musiman. Total sekitar 25 orang,” katanya.
Ke depan, Lili memiliki mimpi untuk mengembangkan usahanya lebih besar lagi. Ia berharap suatu saat bisa membangun tempat produksi yang lebih luas sekaligus membuka peluang wisata kuliner berbasis UMKM. “Harapannya usaha semakin lancar, bisa membangun tempat produksi yang lebih besar, dan mungkin nanti bisa dikunjungi wisatawan,” ujarnya.
Dari sebuah dapur sederhana di Milangasri, kisah Lili Rusmiata membuktikan bahwa ide kecil bisa tumbuh menjadi usaha besar. Kini, pisang gulung wijen buatannya bukan sekadar camilan, tetapi juga menjadi bagian dari identitas kuliner Magetan.(Diskominfo / kontrib.skc / fa2/



