Kamis, 12 Februari 2026, menjadi momentum istimewa bagi perkembangan ekosistem literasi khususnya di Magetan. Dengan mengambil tema, ‘Seorang ibu adalah perpustakaan pertama bagi anak-anaknya. Apa yang kita bacakan hari ini, akan menjadi cara mereka berpikir di masa depan’. Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kab. Magetan (Arpus) mengadakan pelatihan Read Aloud bagi para ibu-ibu anggota Dharma Wanita Persatuan se Kabupaten Magetan, bertempat di Gedung 1 Graha Pusat Literasi Magetan. Pada kesempatan itu, Bunda Literasi Kabupaten Magetan, Hj. Arini Handayani Suyatni berkenan pula mengukuhkan Bunda Literasi Kecamatan se Kabupaten Magetan. Patut diapresiasi bahwa kegiatan ini merupakan upaya konkrit untuk diseminasi dan penguatan Gerakan literasi di Kabupaten Magetan. Mewakili ke 18 kecamatan, Bunda Literasi Kecamatan Magetan secara simbolis menerima pengukuhan yang ditandai dengan pengalungan selempang oleh Bunda LIterasi Kabupaten Magetan.
Dalam pembukaan, Kepala Dinas Arpus Kab. Magetan, Suhardi, menegaskan komitmennya mewujudkan Magetan sebagai Kabupaten Literasi. Tidak cukup hanya menyediakan sarana dan fasilitas fisik, Graha Pusat Literasi, Pojok Baca Digital, Layanan Perpustakaan Keliling, maupun Perpustakaan Umum Magetan yang terus berbenah setiap tahunnya. Namun juga aktif menjalin kerjasama serta kolaborasi dengan semua pemangku kepentingan. Berbagai program kegiatan penguatan literasi, yang melibatkan komunitas-komunitas dan pegiat literasi juga konsisten diadakan dalam beberapa tahun terakhir. Secara khusus pada kesempatan ini, Kepala Dinas Arpus Kab. Magetan turut mendorong terjalinnya kerjasama dengan Dharma Wanita Persatuan Kabupaten Magetan, bersinergi menelurkan program kegiatan kolaboratif peningkatan literasi masyarakat.
Gayung bersambut, dalam sambutannya Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kab. Magetan Ibu Ambarwati Welly Kristianto menyatakan kesiapan bila Dinas Arpus Kab. Magetan berinisiatif menjalin kerjasama misalnya dengan mengadakan lomba Read Aloud khusus bagi anggota DWP Kab. Magetan. Tentu ini dapat menjadi awal sinergi yang positif bagi peningkatan literasi masyarakat, utamanya keluarga ASN di Kabupaten Magetan.
Selanjutnya dalam pengarahan oleh Bunda Literasi Kabupaten Magetan, beberapa pesan penting sebagai ajakan Bunda Arini sekaligus suntikan semangat bagi para Bunda LIterasi Kecamatan diantaranya, pertama, menjadi teladan literasi di lingkungan dan masyarakat. Kedua, menginspirasi siapa saja untuk mencintai buku. Ketiga, menghidupkan kembali pojok baca dan perpustakaan di tingkat kecamatan hingga Desa. Keempat, mengampanyekan dan menginspirasi tentang metode read aloud kepada para orang tua di wilayahnya.
Tantangan hari ini bukan lagi tentang ‘Bisa membaca’ tetapi tentang ‘gemar membaca’ dan ‘memahami informasi dengan benar’. Dharma Wanita persatuan mempunyai peran strategis dalam membangun kualitas SDM, dimulai dari unit terkecil yaitu keluarga, kemudian berkembang ke lingkungan sekitar, komunitas dan masyarakat. Membaca nyaring (read aloud), diyakini dapat menjawab tantangan tersebut. Mengingat metode ini cukup efektif untuk menumbuhkembangkan habitus gemar membaca, yang pada gilirannya meningkatkan kemampuan pembaca dan pendengar untuk menelaah kebenaran sebuah informasi.
Penting untuk diketahui bersama, membaca nyaring bagi seorang Ibu kepada anak mempunyai banyak manfaat diantaranya, meningkatkan kemampuan berbahasa dan literasi anak (menambah kosakata dan pemahaman cerita); menstimulasi perkembangan kognitif dan kreativitas anak (cerita efektif untuk menumbuhkan nilai-nilai karakter dan budi pekerti, serta membangun imajinasi dan nalar kritis anak); memperkuat ikatan emosional ibu dan anak; serta menumbuhkan kegemaran membaca dan mencintai buku sejak usia dini.

Usai pengukuhan Bunda Literasi Kecamatan, disambung pelatihan Read Aloud dengan narasumber, Supeni (Bu Peni) dan Ruly Dadan Rusdianata (Kak Ruly). Dikatakan oleh Bu Peni, secara sederhana, read aloud adalah kegiatan membaca buku atau materi tertulis lainnya secara nyaring kepada anak, seringkali dengan intonasi, ekspresi, dan jeda yang tepat. Read Aloud bukan sekadar membaca teks, melainkan sebuah pertunjukan mini yang melibatkan suara, emosi, dan interaksi. Tujuannya adalah untuk menarik perhatian anak dan membuat cerita menjadi hidup di benak mereka. Beberapa tips yang disa diterapkan untuk memulai kebiasaan membnaca nyaring (read aloud) di rumah diantaranya, menjadikan read aloud sebagai rutinitas yang menyenangkan bukan membosankan, pemilihan buku yang tepat, menggunakan ekspresi dan intonasi yang menarik, mengikutsertakan anak dalam aktivitas read aloud, menciptakan lingkungan yang nyaman dan tidak kaku, serta mengulang cerita yang digemari anak.
Sementara Kak Ruly memaparkan materi tentang mendongeng. Perlu dipahami bahwa meski sangat beririsan, namun read aloud berbeda dengan mendongeng. Fokus read aloud adalah membaca secara nyaring, sedangkan dalam mendongeng, seorang pendongeng dapat berimpovisasi sekreatif mungkin untuk menyampaikan isi dongengnya. Dijelaskan Kak Ruly bahwa mendongeng bisa digunakan sebagai sarana menghibur, mendidik, menginspirasi pendengar, melestarikan budaya, mengembangkan kreativitas, hingga membentuk karakter anak. Dalam menyampaikan cerita, seorang pendongeng perlu untuk terus mengasah kemampuannya mengenai ekspresi wajah, suara, gerakan, tempo penyajian, interaksi dengan pendengar serta membangkitkan imajinasi. Adapun beberapa tips dalam mendongeng pada dasarnya tidak berbeda dengan read aloud, diantaranya, pilihan cerita yang menarik, penggunaan Bahasa yang sederhana, ekspresif serta melibatkan audiens.

Pada kegiatan pelatihan ini Dinas Arpus Kab. Magetan juga membuka layanan pendaftaran anggota Perpustakaan. Beberapa undangan terpantau memanfaatkan layanan tersebut. Bunda Literasi Kabupaten Magetan mengawali mendaftar sebagai anggota Perpustakaan Umum Magetan, dan disusul beberapa yang lain. Semoga melalui kegiatan ini, tidak hanya memperluas kolaborasi dan sinergi Dinas Arpus Kab. Magetan dengan semua elemen pemangku kepentingan. Lebih dari itu apa yang bersama-sama dipelajari pada pelatihan ini dapat dipraktikkan dan memberi manfaat bagi kehidupan, terutama masa depan anak-anak bangsa. Salam Literasi! (nas)












