Thursday, May 28, 2026
Home Berita Magetan Mariyono, Potret Relawan Tangguh Desa Bencana Banjir di Ngelang

Mariyono, Potret Relawan Tangguh Desa Bencana Banjir di Ngelang

0
6

Desa Ngelang di Kabupaten Magetan itu udah lama banget akrab sama momok banjir. Tiap musim hujan, apalagi kalau hujan dari hulu sampai hilir gede banget, air pasti meluap dan bikin kampung kelelep. Dulu, warga ngadepin banjir tuh panik sendiri-sendiri, gak ada yang ngatur, gak ada sistemnya, jadi sering kali gak jelas mau ngapain duluan. Pas lagi darurat, banyak yang dateng bantu, tapi malah pada bingung mau mulai dari mana.

Nah, Pak Mariyono ini salah satu warga yang ngerasain banget kondisi itu. Dia lihat sendiri, banyak orang yang peduli dan mau bantu, tapi kok malah gak efektif gara-gara gak terorganisir. Warga pada jalan sendiri-sendiri, gak ada yang ngasih aba-aba, jadi bantuan seringnya gak tepat sasaran. Malah kadang, karena telat ditangani, korban jadi makin rentan.

Dari pengalaman pahit itulah, Pak Mariyono akhirnya sadar. Masalah utamanya bukan karena orang-orang gak peduli, tapi karena gak ada sistem yang bisa ngatur kepedulian itu biar jadi bermanfaat. “Dulu kalau banjir, kami semua bergerak sendiri-sendiri. Tidak ada komando, tidak tahu harus mulai dari mana,” kata Pak Mariyono pas lagi ditemui di acara pemberdayaan desa tangguh sama Poltekkes Kemenkes Surabaya dan Forum PRB Magetan, Kamis (30/4/26) lalu.

Gak cuma sadar, Pak Mariyono langsung gerak. Dia koordinasi sama pemerintah desa dan ngajak warga buat ngebentuk kelompok relawan. Dari obrolan santai, muncullah ide buat bikin sistem penanganan bencana yang digerakkan sama masyarakat sendiri. Nah, inilah awal mula terbentuknya Destana (Desa Tangguh Bencana) di Ngelang. Meskipun awalnya serba terbatas, langkah ini jadi titik balik penting banget buat ngadepin banjir.

Tantangan besar langsung nongol begitu relawan terbentuk: alat-alatnya minim banget! Gak ada perahu atau alat evakuasi standar, jadi warga harus putar otak. Mereka pakai gedebok pisang buat alat bantu evakuasi darurat. Eh, bukan cuma itu, Pak Mariyono juga ngide bikin rakit dari drum bekas yang diiket tambang terus dikasih pijakan bambu. Inovasi sederhana ini ternyata manjur banget, lebih stabil dan bisa ngangkut beberapa orang sekaligus.

Banjir besar tahun 2007 jadi pengalaman yang paling membekas. Waktu itu, hampir seluruh desa kelelep air dan warga harus ngungsi massal dengan fasilitas seadanya. Kerugian ekonominya gede banget—hasil panen hilang dan ternak pada hanyut. Di tengah situasi yang kacau balau itu, Pak Mariyono tetep fokus nyelamatin warga rentan kayak lansia dan ibu hamil, padahal dia sendiri lagi bingung nyari keluarganya di tengah kegelapan.

Seiring waktu berjalan, terbentuknya Destana ini bener-bener bawa perubahan signifikan. Penanganan bencana jadi lebih terstruktur dan rapi. Para relawan ngumpulin data kelompok rentan sampai tingkat RT, jadi proses evakuasi bisa lebih cepet. Gak cuma itu, mereka juga bikin sistem prediksi banjir berdasarkan tanda-tanda alam dan kondisi di hulu. Jadi, relawan gak lagi nunggu air dateng, tapi udah gerak duluan sebelum bencana beneran terjadi.

Bikin peta wilayah rawan juga jadi bagian penting. Dengan tahu titik-titik mana aja yang duluan kena dampak, relawan bisa nyusun strategi evakuasi yang lebih efektif. Di sisi lain, upaya pencegahan (mitigasi) juga dilakukan lewat usulan pembangunan fisik kayak ninggiin jalan, bikin tanggul, sama ngatur pintu air. Sekarang, beberapa pintu air dipantau rutin biar air gak gampang masuk ke permukiman.

Perkembangan Destana juga kelihatan dari fasilitasnya yang makin komplit. Alat-alatnya sekarang udah lebih lengkap, mulai dari dapur umum, genset, sampai perlengkapan evakuasi. Tapi buat Pak Mariyono, alat-alat itu bukan faktor utama. Dia ngejelasin kalau kesiapan sumber daya manusia itu jauh lebih penting. Makanya, dia sekarang fokus ke regenerasi, ngajak generasi muda dan kader masyarakat buat ikut gabung.

Nilai utama yang terus dijaga sama Pak Mariyono dan timnya adalah keikhlasan. Relawan di sana kerja tanpa dibayar, cuma digerakkan sama rasa peduli dan tanggung jawab sosial. Dia percaya, kepedulian itu harus diiringi kemampuan buat ngatur tindakannya biar bener-bener bermanfaat.

“Relawan itu bukan soal dibayar atau tidak, tapi soal keikhlasan dan kepedulian terhadap sesama,” tutupnya.

Sekarang, Desa Ngelang udah beda banget. Banjir mungkin masih mampir, tapi udah gak bikin panik kayak dulu. Warga di sana udah lebih siap, lebih terorganisir, dan makin tangguh. Pengalaman ini jadi bukti nyata, kalau masyarakat bersatu dan bangun sistem yang kuat, bencana itu bukan cuma momok, tapi jadi tantangan yang bisa dihadapi bareng-bareng.

Sumber Berita

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here