Friday, May 1, 2026
Home Berita Magetan Kisah Sutrisno dan Jaiman Menyambut Program Bedah Kandang di Magetan

Kisah Sutrisno dan Jaiman Menyambut Program Bedah Kandang di Magetan

0
8

Pagi itu, matahari perlahan menyinari Dusun Bangun Sari, Kelurahan Sukowinangun, Kabupaten Magetan. Di halaman rumah sederhana, Sutrisno (64) tampak sibuk menyiapkan pakan ternaknya. Aktivitas itu sudah ia jalani sejak puluhan tahun lalu—bahkan sejak ia belum benar-benar memahami arti masa kanak-kanak. “Sejak kecil saya sudah terbiasa hidup dengan kambing,” ujarnya membuka kisah.

Sutrisno tumbuh dalam keterbatasan ekonomi keluarga. Sejak usia empat tahun, ia sudah menggembalakan kambing milik saudaranya untuk membantu ekonomi keluarga yang hanya bergantung pada pekerjaan buruh tani. Hari-harinya diisi dengan mencari rumput, membersihkan kandang, hingga memastikan ternak tetap sehat.

“Saya tidak sempat merasakan masa kecil seperti anak lain,” lanjutnya.

Baginya, kambing bukan sekadar ternak. Kambing adalah jalan hidup. Dari situlah ia bertahan, belajar, dan akhirnya membangun masa depan. “Alhamdulillah, dari beternak ini saya bisa menikah tahun 1994,” kenangnya.

Namun hidup tidak selalu berjalan mulus. Setahun setelah menikah, cobaan datang. Saat mencari pakan kambing, ia terjatuh dari pohon dan mengalami cedera serius di bagian pinggang. “Tahun 1995 saya jatuh dari pohon saat cari pakan kambing,” tuturnya.

Sejak kejadian itu, kondisi fisiknya tidak lagi sama. Aktivitasnya menjadi terbatas, tetapi ia tetap berusaha bekerja. “Sejak itu saya tidak bisa kerja seperti dulu, tapi tetap saya jalani,” katanya.

Cobaan lain datang ketika istrinya meninggal dunia empat tahun setelah pernikahan. Kehilangan itu membuat hidupnya semakin sunyi. Kini, Sutrisno tinggal seorang diri di rumah bantuan program RTLH, sementara anak semata wayangnya telah berkeluarga dan tinggal di Kecamatan Parang. “Kambing ini jadi teman hidup saya,” ujarnya pelan.

Dalam kesendirian, ia tetap bertahan. Ia merawat kambing milik tetangganya dengan sistem bagi hasil. Dari empat ekor kambing yang ia rawat, berkembang menjadi sembilan ekor dalam kurun waktu empat tahun. “Saya tetap merawat kambing orang dengan sistem bagi hasil,” jelasnya.

Dari hasil itu, ia mendapatkan dua ekor kambing sebagai miliknya. Baginya, hasil tersebut bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga penghibur di tengah keterbatasan hidup. “Ini jadi hiburan sekaligus penghasilan,” katanya.

Harapan baru datang ketika ia menerima bantuan program bedah kandang. Kini, ia memiliki kandang yang lebih layak serta tambahan dua ekor domba. “Alhamdulillah sekarang dapat kandang dan dua domba,” ujarnya.

Bantuan itu memberi lebih dari sekadar fasilitas. Ia menghadirkan semangat baru bagi Sutrisno untuk terus melanjutkan hidup. “Ini bukan sekadar bantuan, tapi semangat untuk hidup lagi,” tegasnya.

Kisah perjuangan serupa juga dialami Jaiman (71), warga Dusun Ngelawar, Desa Purwosari. Sejak muda, ia telah hidup dalam keterbatasan dan menggantungkan harapan dari beternak. “Saya dari dulu sudah biasa hidup susah dan beternak,” ujarnya.

Berawal dari Memelihara Sapi Malah Rugi.

Pada 2019, ia sempat merawat sapi milik tetangganya. Namun pada 2023, sapi tersebut terserang penyakit mulut dan kuku (PMK) dan terpaksa dijual dengan harga jauh di bawah nilai normal. “Sempat ditawar Rp25 juta, tapi dijual hanya Rp3 juta karena sakit,” katanya.

Lebih menyedihkan lagi, uang hasil penjualan itu ia kembalikan kepada pemilik sapi karena merasa tidak enak hati. “Empat tahun saya tidak dapat apa-apa,” ujarnya.

Meski begitu, Jaiman tidak menyerah. Dengan penghasilan sebagai buruh tani sekitar Rp80 ribu per hari, ia menyisihkan sebagian untuk membeli dua ekor kambing.Namun ujian kembali datang. Dua kambing yang ia pelihara selama dua tahun mati masuk angina karena kondisi kandang yang tidak layak. “Tapi dua kambing saya mati karena kandang tidak layak,” katanya sedih.

Keterbatasan ekonomi membuatnya harus menyatukan kandang kambing dengan dapur rumah. Kondisi itu tentu jauh dari ideal, baik bagi ternak maupun kesehatan keluarga. Perlahan, keadaan Jaiman mulai berubah ketika ia menjadi salah satu penerima program bedah kandang dari Dinas Peternakan. Kini, di belakang rumahnya berdiri kandang panggung berukuran 3 x 1,5 meter yang dilengkapi tiga ekor domba. “Sekarang saya dapat bantuan kandang dan tiga ekor domba,” ujarnya.

Kandang baru tersebut membuat ternaknya lebih sehat dan mudah dirawat. “Sekarang lebih layak, kambing juga lebih sehat,” katanya.

Sebagai duda, Jaiman membesarkan dua anaknya dengan penuh perjuangan. Ia harus pandai mengatur penghasilan yang terbatas untuk kebutuhan sehari-hari sekaligus pendidikan anak. “ Kerja Serabutan gajinya hanya Rp 80.000 sehari. Saya sisihkan uang untuk anak-anak Rp 12.000, yang Rp 35.000 untuk makan, yang Rp 10.000 untuk kebutuhanlistrik, sabun dan lain lain sisanya ditabung untuk kebutuhan lain,”  jelasnya.

Bantuan bedah kandang ini memberinya harapan baru. Ia berharap ternak yang dimiliki bisa berkembang dan menjadi sumber penghasilan tambahan. “Harapannya bisa membantu biaya pendidikan anak,” ujarnya.

Program bedah kandang tidak hanya menghadirkan perubahan fisik pada kandang ternak, tetapi juga membawa harapan baru bagi kehidupan para penerimanya. “Semoga ke depan hidup kami bisa lebih layak,” pungkasnya.

Di balik kandang yang kini berdiri kokoh, tersimpan cerita panjang tentang perjuangan, kehilangan, dan harapan yang tak pernah padam.

Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Magetan Nur Haryani mengatakan, ProgramBedah Kandang yang telah berjalan 3 tahun merupakan program yang menyasar  kepada peternak yang kurang mampu agar bisa meningkatkan taraf hidup mereka. “ Sasaran kita memang peternak kurang mampu. Mereka biasnaya nggaduh atau memelihara ternak tetangga baru bagi hasil, melalui program ini kita harapkan mereka akhirnya bisa meningkatkan taraf hidup dan mandiri karena memiliki ternak sendiri,” ujarnya usai penyerahan kambing dan kandang.

Sementara Direktur Utama BPRS Magetan Endah Kundarti selaku penyokong anggaran kegiatan Bedah Kandang mengaku senang dengan respon dari peternak yang akhirnay bisa meningkatkan taraf hidup dan kemandirina karena memiliki kadnang dan ternak sendiri. Menurutnya dengan memiliki ternak sendniri dan kandang yang representative peternak akan lebih bersemangat lagi memelihara kambing milik mereka. “ Harapan kita bisa bermanfaat bagi peternak dan bisa lebih berkembang. Semoga tahun depan kita akan support lagi dan bisa tambah lagi kalau CSR juga meningkat. Kita juga support program bedah rumah. Harpan kita program ini terus berlanjut dan peternak lebih sejahtera,” ucapnya.(Diskominfo / kontrib.skc / fa2 /

Sumber Berita

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here