Usaha Stagen Di Magetan Raih Omset Rp 300 Juta Per Bulan

0
36
Sukarno pemilik perusahaan tagen sedang membersihkan sisa sisa benang di tagen

Suarakumandang.com BERITA MAGETAN. Stagen atau centing adalah kain pengikat perut wanita. Jaman sekarang tagen sering dijumpai saat acara adat istiadat Jawa seperti resepsi manten, tari-tarian, acara budaya dan masih banyak lainnya.

Di Kabupaten Magetan Jawa Timur ada sebuah pabrik Stagen yang mampu memproduksi ratusan tagen yang siap dipasarkan di sejumlah kota besar di Indonesia.

Adalah Sukarno pemilik pabrik Stagen warga Desa Joketro, Kecamatan Sidorejo. Dia menggeluti usaha membuat tagen sudah 15 tahun lamanya.

Kini Sukarno sudah berhasil menjadi pengusaha pembuatan Stagen . Omset yang raih mencapai ratusan juta rupiah.

15 tahun bukan waktu yang singkat untuk mencapai kesuksesan.
Banyak rintangan untuk tercapai cita-citanya menjadi pengusaha pembuat tagen.

Dalam satu hari bapak tiga anak ini dibantu 21 karyawannya mampu memproduksi 750 tagen. “Dari 21 karyawan satu karyawan memproduksi 30 Stagen dalam sehari,” kata Sukarno.

Bahan baku Stagen yaitu dari benang lusi (benang jahit-red) dan benang katun. “Yang panjang sampai 8 meter itu namanya benang lusi sedangkan yang pendek atau posisi malang namanya benang katun,” jelas Sukarno.

Sedangkan proses pembuatan Stagen dari mesin tenun. “Mesin tenung di sini ada 27 mesin digerakkan dengan tenaga listrik,” ucapnya.

“Kalau warna Stagen kita buat sesuai warna benang,” terangnya.

Dalam hal pemasaran tagen buatan Sukarno hanya mengirim ke
Yogyakarta, namun oleh pihak pembeli dari Yogyakarta dijual di seluruh
Indonesia dan Asia.

Tagen Sukarno dalam 2 minggu sekali mampu mengirim ke Yogyakarta sebanyak 400 kodi. Untuk satu kodi berjumlah 20 Stagen . “Jadi 2 minggu sekali kita kirim ke Yogyakarta kurang lebih 8 juta tagen,” paparnya.

Alhamdullilah selama usaha pembuatan Stagen Sukarno mengaku tidak pernah mengalami keterlambatan bahan baku Stagen . ”Harga satuan tagen mulai dari Rp 25 ribu sampai Rp 35 ribu sesuai kualitasnya,” jelas Sukarno lagi.

Sukarno mengaku Ide awal pembuatan Stagen itu usaha jelalah (usaha kebetulan-red). Saat itu main ke rumah kakaknya yang di Yogyakarta melihat orang tuanya membuat tagen dengan mesin tenun tradisional.

Dia berfikir dengan usahanya membuat Stagen dengan mesin tenun tradisional dapat meyekolahkan anaknya sampai ke jenjang perguruan tinggi.

“Dengan satu mesin tenun tradisonal dapat menyekolahkan anaknya sampai kuliah, logikanya kalau saya membuat Stagen dengan mesin mungkin bisa beli motor mabur (pesawat terbang-red),” candanya.

Setelah melihat usaha kakaknya Sukarno akhirnya terinspirasi dan mencoba membuka usaha pembuatan Stagen di Magetan.

Sukarno yakin dengan usaha Stagen di Magetan akan berhasil setelah melihat kondisi pasar di Yogyakarta masih banya membutuhkan produksi tagen. “Ya setalah saya melihat kebutuhan Stagen di Yogyakarta semakin meningkat dan apalagi semakin sedikitnya generasi untuk menekuni pembuatan Stagen dan akhirnya saya menyakinkan untuk mendirikan usaha pembuatan Stagen di Magetan,” ceritanya.

Sementara itu, omset dari hasil pembuatan Stagen mencapai Rp 300 juta. “Rata-rata kalau dibuat omset saya kotor sekitar Rp 300 juta,” pungkasnya.

Jurnalis: Cahyo Nugroho.

Sumber Berita

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here