Tanda Tangan Dari Surabaya Untuk Magetan

0
167
Muchtar Wahid Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (DPUPR) Kabupaten Magetan, Jawa Timur. saat melakukan pengecekan lokasi talud rusak akibat dilanda banjir beberapa waktu lalu di Sukomoro Magetan

Suarakumandang.com, BERITA MAGETAN. Teringat perintah dari atasan (Bupati-red) melalui WhatsApp ia berharap untuk lebih fokus pada kesehatan, karena sakitnya ia sendiri harus menjalani perawatan di rumah sakit Surabaya.

Tapi dengan kondisi yang dialami, Ia harus menandatangani
sejumlah berkas proyek tahun 2020 di Kabupaten Magetan. Menjalani itu dengan
kondisinya dirawat di rumah sakit pastilah berat, namun semakin berat buat pria
dua anak ini jika tidak menandatangani sejumlah Surat Pertanggung Jawaban (SPJ)
maupun surat lainnya dari perusahaan Commanditaire Vennootschap (CV) maupun
Perseroan Terbatas (PT).

Rabu, (20/01/20210), sore itu usai adzan Azhar berkumandang
dilangit Magetan, saat ditemui jurnalis Suara Kumandang di ruang kerjanya.
“Assalamualaikum”… dari dalam ruangan pria yang murah senyum ini menjawab
dengan lantang “Wa’alaikumsalam”.

Pria yang hidup bersahaja itu terlihat tetap tenang ketika
ditanya soal kabar kesehatannya. Dia menjawab, “Alhamdulilah, sudah sehat”
sambil tersenyum.

Adalah Muchtar Wahid Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan
Perumahan Rakyat (DPUPR) Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Diakhir tahun 2020 pria
yang tinggal di kawasan Magetan kota ini mengaku sempat dirawat di dua rumah
sakit.

“Saya dirawat selama 14 hari, yaitu mulai pertengahan bulan
November hingga awal Desember, pertama dirawat di Rumah Sakit dr. Sayidiman
Magetan dan yang kedua dirawat di rumah sakit Surabaya,” kata pria yang akrab
disapa Pak Muchtar ini.

Menurutnya, di bulan November hingga Desember atau akhir
tahun merupakan hal yang terpenting untuk menyelesaikan tugasnya sebagai kepala
dinas terkait kontrak proyek fisik maupun non fisik.

Jawab pria yang tinggal di perumahan sederhana ini ditanya
alasan kuat apa yang membuat tetap harus menyelesaikan pekerjaannya dalam
kondisi sakit.

 Pria lulusan ITB
Bandung hanya menjawab dengan senyuman.”Saya harus menandatangani semua berkas
administrasi proyek. Sebab, kalau tidak segera saya tandatangani akan banyak
teman-teman CV maupun PT khusus yang berkaitan dengan proyek DPU maka mereka
akan kecewa,” ungkapnya.

“Kami harus melayani mereka (masyarakat-red) dengan hati,
jika tidak saya tanda tangani maka akan banyak mereka yang tidak menerima apa
yang semestinya mereka terima, sebab mereka juga bekerja untuk mencukupi
kebutuhan orang banyak,” ucapnya.

Pria yang mempunyai warna kulit sawo matang ini
mencontohkan,” Jika salah satu CV maupun PT surat kontrak tidak segera saya
tanda tangani maka yang bersangkutan dengan CV maupun PT akan menanggung
akibatnya,”paparnya.

Lanjutnya, dan itu akan berurutan mulai dari pengusaha,
tenaga ahli, tenaga kerja bahkan sampai toko bangunan, warung makan, biaya
hidup maupun lainnya. “Alasan itulah yang membuat saya harus menantanda
tangani,”kata Muchtar.

Sudah tidak asing lagi, setiap akhir tahun semua  kepala dinas pasti akan disibukkan dengan
berbagai administrasi proyek yang berhubungan dengan bidangnya masing-masing.
”Kalau akhir tahun tidak segera diselesaikan maka dampaknya sangat besar dalam
perputaran ekonomi di Magetan,” katanya sambil tersenyum.

“Di DPU sendiri jumlah proyek pada tahun 2020 ada 698
kontrak yang meliputi fisik dan non fisik. Kalau non fisik seperti tenaga
konsultan, perencana dan masih banyak lainnya. Sedangkan fisik seperti
jembatan, jalan, gedung, trotoar dan lain sebagainya. Salah satunya menanda
tangani surat SPJ advertorial di mediamu juga mas,” cetusnya sambil tertawa
kecil.

Dia juga menjelaskan dari 698 kontrak di tahun 2020 menelan
anggaran kurang lebih  Rp 170 miliar.
“Anggaran itu dari APBD, APBN dan DAK,”paparnya.

“Kalau di DPU itu tumpuan untuk recovery ekonomi kemarin
masa pandemik COVID-19 untuk melaksanakan anggaran tahun 2020 proyek ini sangat
mendesak untuk dilaksanakan,”katanya.

Muchtar mencontohkan untuk recovery ekonomi di Kabupaten
Magetan yang dikerjakan adalah jalan, saluran, trotoar, PJU dan masih banyak
lainnya.

“Seingat saya teman-teman datang kerumah sakit Magetan satu
kali, sedangkan di rumah sakit Surabaya 4 kali. Jadi  bolak balik dari Magetan-Surabaya hanya untuk
mendapatkan tanda tangan saya supaya pekerjaan tahun 2020 segera selesai dan
Alhamdulilah akhir tahun 2020 selesai semua,”tenangnya.

Ditempat lain salah satu staf DPUPR Magetan yang enggan
disebutkan namanya membenarkan jika selama Muchtar Wahid sakit dan dirawat di
dua rumah sakit sering bolak–bolak ke rumah sakit untuk minta tanda tangan
terkait proyek.”Dan itu permintaan beliau,”jawabnya dengan singkat.

“Iya mas, saya sering bolak–balik Magetan- Surabaya kerumah
sakit untuk mendapatkan tanda tangan pak Muchtar, meskipun hanya sebatas tanda
tangan akan tetapi pak Muchtar juga melakukan cek dengan teliti,”jelasnya saat
ditemui di warung depan kantor DPU Magetan.

Namun ketika dimintai foto saat Muhctar di rumah sakit
Magetan maupun Surabaya, staf berstatus pegawai Sipil Negara (PNS) tersebut
mengaku tidak memiliki dan mengaku tidak memfoto saat Muchtar menanda tanganani
surat dirumah sakit.

 “Waduh mas saya nggak
sempat ngefoto saat tanda tangan dan mengecek berkas pak Muchtar sambil duduk
di atas tempat tidurnya kadang duduk dikursi dekat  kamar tidur,”akunya.

Jurnalis: Cahyo Nugroho.

Sumber Berita

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here