Seniman Magetan Bikin Lukisan Kaligrafi, Karyanya Dipamerkan di Plaza Senayan

0
21

Magetan (beritajatim.com) – Ruang kerjanya tak terlalu lebar. Beberapa papan triplek tersandar di pojok ruangan. Sebagian ada kain-kain warna pastel yang tergeletak di tengah. Sementara, di pojokan yang satunya ada papan yang sudah lengkap dengan canvas. Sebagian sudah terdapat beberapa rangkaian huruf hijaiyah. Sebagian masih benar- benar bersih.

Tak jauh dari tempat kerja, duduk seorang pria di kursi kayu. Tangan kirinya menahan papan yang diatasnya terdapat selebar kertas yang penuh dengan coretan. Bukan sekedar coretan, ada sebuah pola dalam coretan tersebut. Sementara tangan kanannya asyik memberikan pola-pola dan mencoret di kertas yang tadinya sudah digambari sketsa itu.

Dari coretannya, memang terlihat biasa saja. Namun,jika lebih jeli, akan ada huruf 0 huruf yang tak asing. Yakni huruf hijaiyah. Meski hanya sebuah rangkaian saja, huruf-huruf itu memangs udah mewakili ciri khas seni milik Abdul Mukti, pemuda 27 tahun itu. Pemuda yang sejak kecil sudah kenal dengan seni kaligrafi itu kini mencoba mengkombinasikan kaligrafi dengan lukisan. “Sampai sekarang saya masih mencoba untuk eksplore,” ungkapnya.

Pemuda asli Sampang, Madura itu memang sudah sejak delapan tahun lalu tinggal di Magetan. Semenjak kuliah, dia memang merantau ke Magetan. Kebetulan dia sekolah di salah satu sekolah tinggi di Ngawi dan kini mendampingi santri-santri di sebuah pondok di Kecamatan Ngariboyo. Dalam jurusannya yakni Tarbiyah, tentu tak ada ilmu yang benar- benar memberikan tambahan pada hobinya yakni seni kaligrafi. Namun, semenjak dia bergabung dengan komunitas Mageti Art, dia pun bisa banyak belajar. “Kan ketemu temen-temen yang belajar seni sampai kuliah, ilmunya lebih banyak,” ungkapnya.

Dari situlah, dia pun mulai mendapat ide – ide baru. Dia yang dulunya juga sudah suka melukis dengan cat akrilik pun mencoba beralih. Ciri khas nya memang di kaligrafi. Kebetulan yang banyak dia pelajari adalah huruf-huruf hijaiyah. Sehingga, dia pun mencoba membuat seni yang unik. Yakni membuat sebuah karya dimana banyaks ekali rangkaian huruf hijaiyah. “Dan teknik pewarnaannya menggunakan teknik linier,” katanya.

Meski terbilang melelahkan, karena harus satu per satu huruf diwarnai, dia pun memang telaten. Sehingga, meski di sela – sela kesibukannya menggarap pesanan kaligrafi, dia masih bisa menyelesaikan lukisan yang sempat dipamerkan di salah satu homestay pada awal November 2019 lalu. Setidaknya butuh waktu seminggu untuk menggarapnya. “Yang penting sketsanya sudah jadi dulu, baru dipertebal menggunakan drawing pennya,” katanya.

Sebelumnya, dia memang sempat mengirim karya saat pameran yang diadakan komunitasnya pada pertengahan tahun ini. Awalnya, memang hanya kaligrafi dan lukisan KH hasyim Asyari menggunakan cat akrilik. Sayngnya, hal itu belum membuatnya puas. Dia pun menginginkan perubahan yakni dengan membuat kombinasi baru. “Tanpa menggunakan cat. Dan saya bikin bukan sebagai doodle, tapi lebih ke teknik menggambar linier saja,” ungkapnya.

Sampai sekarang, dia pun memang masih menggambar menggunakan teknik tersebut. Dalam waktu dekat memang ada pameran. Sehingga, kini pun dia sudah menyiapkan karya-karya yang baru untuk pameran. Kali ini karyanya dipajang bersama karya – karya seniornya di komunitas. Sehingga dia merasa lebih tertantang. “Saya masih akan mencoba mengkombinasikan kaligrafi dan lukisan, masih eksplore lagi,” ungkapnya.

Saat ini lukisan di kanvas ukuran 120 cm x 140 cm bergambar rangkaian huruf hijaiyah itu sedang dipamerkan di Ramadhan Art Exhibition di Plaza Senayan, Jakarta Pusat mulai 8 April 2022 hingga 9 Mei 2022. Tak hanya itu saja ada pula lukisannya berupa rangkaian huruf hijaiyah hingga membentuk perahu di dalam laut turut dipamerkan dalam acara itu.

Selama itu pun, dia juga masih aktif untuk membuat pesanan kaligrafi. Pemesannya Pun beragam, mulai dari kawasan Magetan sampai Jogja dan Surabaya. Para pelanggannya tahu dan memesan secara online. Medianya pun beragam ada yang berupa triplek, kain atau kanvas. Harganya juga bervariasi paling murah sekitar Rp 150 ribu dan paling mahal mencapai Rp 1,3 juta. Tergantung dengan ukuran, jenis media, dan kerumitan. “Mayoritas yang dipesan itu ya ayat kursi,” pungkasnya. (fiq/kun)



Sumber Berita

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here