Petani Tembakau Rejeb Khas Parang Magetan Hampir Punah, DBHCHT Perlu Berpihak pada Mereka

0
9

Magetan (beritajatim.com) – Tak hanya petani tembakau di Panekan, Magetan, Jawa Timur yang merana tapi juga di Parang. Salah satunya Paimin (58) warga Desa Krajan, Kecamatan Parang. Dia mengakui selama tiga tahun ini tak dapat sarpras atau bantuan yang dianggarkan dari dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT).

Dia salah satu petani sekaligus pengrajang tembakau di desa setempat yang masih bertahan. Dahulu ada puluhan petani yang juga merajang sendiri tembakaunya sebelum dikeringkan hingga dijual. Namun kini hanya tinggal lima petani sekaligus pengrajang.

Dulu DBHCHT masih jadi semangat para petani untuk bertahan kala itu. Kurang lebih tiga tahun ini program bagi petani yang berasal dari cukai tembakau itu raib tidak diterima oleh para petani. Itu yang membuat petani tembakau jenis rejeb khas magetan berhenti. DBHCHT yang dikelola oleh Pemkab Magetan yang jumlahnya puluhan miliar rupiah itu tidak lagi berpihak kepada para petani tembakau.

“Dulu ada banyak jumlah petani tembakau di Desa Krajan. Kini yang bertahan tidak banyak lagi, pokoknya ngak lebih dari lima orang saja. Ya mungkin sudah kehabisan modal, bila dulu kan masih ada bantuan pupuk, benih, alat hingga modal dari DBHCHT. Tiga tahun ini nggak ada sama sekali,” kata Paimin, Sabtu (03/08/2022).

Dia mengaku heran atas kebijakan pemerintah yang tidak lagi berpihak kepada para petani tembakau saat ini. Bila terus begini dipastikan para petani di Magetan terutama di desanya akan punah. Tidak ada lagi yang mau menanam, akan beralih ke tanaman lain, tembakau rejeb khas Magetan pun bisa punah.

“Kami mewakili petani tembakau berharap anggaran DBHCT bisa juga dinikmati petani. Kami pelaku utama, kami yang memproduksi tembakau semestinya punya hak juga tentunya. Karena menanam tembakau itu tidak mudah, kami butuh dukungan dari pemerintah mulai dari pupuk hingga permodalan,” keluhnya.

Dia tak banyak tahu soal DBHCHT pemerintah saat ini digunakan untuk apa. Sejauh yang dia dengar di warung warung, duit cukai itu digunakan membangun rumah sakit, sosialisasi, hingga dangdutan.

“Coba kami dikasih, coba kami juga dialokasikan. Kan banyak sekali itu, puluhan miliar sedikitpun tidak rembes ke kami petani tembakau. Kembalikan seperti dahulu agar kami bisa terus bisa bercocok tanam,” pungkasnya. [fiq/but]



Sumber Berita

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here