Knalpot Brong Bising dan Ganggu Warga Keinginan untuk tampil beda dan menjadi k…

0
17

Knalpot Brong Bising dan Ganggu Warga

Keinginan untuk tampil beda dan menjadi keren, bagi kehidupan sebagian bikers ( read: pengendara roda dua ) kadang menjadi hal yang pokok. Berbagai cara mereka lakukan untuk mencapai hal tersebut, salah satunya dengan memodifikasi kendaraan mereka supaya terlihat menjadi lebih personal. Berbagai part motor kemudian diganti sesuai dengan keinginan pemilik motor. Part yang sering diganti dan dimodifikasi salah satunya adalah knalpot, baik itu diganti dengan knalpot racing ataupun di”bobok” dari knalpot aslinya.

Alih-alih dengan maksud untuk meningkatkan performa torsi motor, knalpot yang seharusnya bersuara standart itu kemudian berubah menjadi bising, repotnya lagi hal tersebut menjadi lumrah dan dianggap wajar bagi kalangan tertentu. Padahal, hal tersebut jelas-jelas mengganggu pengendara lain dan tentunya tidak sesuai dengan regulasi lalu lintas. Selain bising, asap yang keluar dari kenalpot juga terkadang mengenai pengendara lain.

Di beberapa minggu kemarin warga sekitar jalur Magetan-Sarangan-Cemoro Sewu dibuat resah dan tidak nyaman dengan aktifitas pengendara-pengendara motor brong yang melintas di depan kediaman mereka. Area jalur wisata yang harusnya tenang sejuk bagi wisatawan menjadi riuh akibat keberadaan anak muda yang membleyer-bleyerkan kendaraan di sepanjang jalur ini.

Terkait hal ini, penggunaan knalpot brong yang tidak sesuai dengan peruntukan telah diatur di Pasal 285 Undang-Undang Nomor 22 tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, dimana dalam pasal tersebut menyebutkan, Setiap orang yang mengemudikan Sepeda Motor di Jalan yang tidak memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan yang meliputi kaca spion, klakson, lampu utama, lampu rem, lampu penunjuk arah, alat pemantul cahaya, alat pengukur kecepatan, knalpot, dan kedalaman alur ban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (3) juncto Pasal 48 ayat (2) dan ayat (3) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) bulan atau denda paling banyak Rp 250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah).(lanjut pada kolom komentar)

Sumber Berita

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here