Demi Cukupi Hidup, 3 Tunarungu Magetan Rela Pertaruhkan Keselamatan

0
144
Deri (28) salah satu petugas pengantur lalu lintas di pertigaan jalan Bangka dan Jalan MT Hariyono Magetan.

Suarakumandang.com, BERITA MAGETAN. Tiga orang petugas lalu lintas yang mengatur pengendara, namun mereka bukanlah seorang polisi.

Dibawah terik sinar matahari, debu, serta keringat
bercucuran sudah menjadi teman dekatnya. Semua mereka lakukan hanya untuk
mencukupi kebutuhan sehari–hari.

Terik matahari diterjang tak terkecuali hujan deras,
bukanlah masalah tuk cukupi kebutuhan.

Tentunya bagi pengendara roda dua maupun roda empat  yang melalui Pertigaan Jalan MT. Haryono dan
Jalan Bangka di Wilayah Magetan Kota sudah tidak asing lagi bukan, melihat
petugas pengatur lalu lintas ini.

Mereka sering terlihat di pertigaan tersebut mulai pukul
08.00 WIB sampai dengan pukul 16.00 WIB. Ketiganya bekerja tanpa digaji namun
tergantung oleh pemberian sukarela pengendara yang lewat.

“Mereka bertiga itu tuna rungu dan mereka  bekerja tidak digaji, dapat uangnya dari
pengendara yang lewat,“ ujar Hendrik salah satu petugas lalu lintas.

Hendrik (38) yang tinggal di kawasan Magetan Kota
menjelaskan alasan mereka bekerja sebagai petugas pengatur lalu lintas sukarela
untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga. “Rompi polisi yang dipakai mereka  dari Petugas Polres Magetan. “ paparnya.

Hendrik yang setiap hari bekerja sebagai pengatur lalu lintas di perempatan Jalan Yos Sudarso dan jalan Kalimatan menjelaskan bahwa hasil dari mereka mengatur lalu lintas mendapatkan hasil rata–rata per harinya Rp 20.000 sampai Rp 40.000 per orang.

Hendrik salah satu petugas pengatur lalulintas di perempatan jalan Yos Sudarso dan jalan Kalimatan

“Bekerja bergantian. Bagian pertama pukul 08.00 WIB sampai
pukul 10.00 WIB, bagian kedua pukul 10.00 WIB sampai pukul 13.00 WIB dan bagian
ketiga pukul 13.00 WIB sampai pukul 16.00 WIB,“ paparnya.

Dijelaskan pula, kenapa mereka menjaga dan mengatur lalu
lintas di tempat tersebut, dikarenakan pertigaan yang mereka jaga padat lalu
lintas dan rawan kecelakaan. “Sebagai petugas lalu lintas ada di dua titik
lokasi yaitu di perempatan MT. Haryono dan di sekitar Alon-alon,” ujarnya.

Tunarungu, sebuah kondisi dimana sangat beresiko untuk profesi petugas pengatur lalu lintas. Jika saja mereka lengah dan tidak dapat menyadari kendaraan yang melaju dari arah yang tidak dijangkau oleh pendengaran. Kemungkinan terjadinya kecelakaan akan lebih besar.

Namun semua itu tidak menjadi sesuatu yang perlu dipertimbangkan. ” Ya pokoknya hati-hati, apapun itu pasti dikerjakan. Semua demi memenuhi kebutuhan hidup,”pungkasnya.

Jurnalis: Ant (Magang).

Sumber Berita

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here