Begini Asal Usul Lebaran Ketupat di Magetan

0
15

Magetan (beritajatim.com) – Sejumlah umat Islam di Magetan bakal merayakan lebaran ketupat pada Minggu (8/5/2022). Biasanya lebaran ketupat dirayakan usai umat Islam melaksanakan puasa Syawal yang umumnya dimulai pada 2 Syawal hingga 7 Syawal. Lebaran ketupat bakal dirayakan pada 8 Syawal.

Puluhan pedagang ketupat dadakan tak akan melewatkan kesempatan itu. Sejak H+4 lebaran mereka tampak menjajakan dagangannya di sepanjang trotoar di Pasar Sayur Magetan. Puluhan masyarakat juga tampak membelinya dari pedagang pads Sabtu, 7 Mei 2022.

Namun tidak semua orang tahu, bagaimana awal dilaksanakannya tradisi lebaran ketupat. Tradisi sejak jaman kakek nenek itu terus dilestarikan karena sudah menjadi budaya warga Magetan.

Dilansir dari berbagai sumber, tradisi lebaran ketupat sudah ada sejak zaman penyebaran Islam oleh Wali Songo di tanah Jawa. Salah satunya diajarkan oleh Sunan Kalijaga, saat menyebarkan ajaran Islam di tanah Jawa memperkenalkan dua kali lebaran yakni Idulfitri dan bakda kupat atau lebaran ketupat.

Seperti yang pernah disampaikan KH Mansyur, Ketua MWC NU Magetan tahun lalu, ketupat atau dalam bahasa jawa disebut kupat mengandung filosofi mendalam yakni lepat atau mengakui kesalahan. ”Prosesi ngaku lepat umumnya diwujudkan dengan tradisi sungkeman, yaitu seorang anak bersimpuh dan memohon maaf di hadapan orang tuanya,” kata KH Mansyur, . Sabtu (07/05/2022).

Dia menceritakan Sang Wali membawa ajaran puasa enam hari setelah Idulfitri dan dilestarikan hingga saat ini. Perayaannya dimeriahkan dengan sajian menu ketupat dengan sayur lodeh. Dalam salah suatu hadis disebutkan, bahwa Rasulullah Muhammad SAW bersabda barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian melanjutkan enam hari di bulan syawal maka baginya pahala puasa selama setahun penuh.

Konon atas dasar itulah, Sunan Kalijaga memperkenalkan puasa syawal mulai tanggal 2 hingga 7 syawal atau selama enam hari berturut-turut. Kemudian pada 8 Syawal orang-orang kembali merayakan lebaran yang disebut sebagai lebaran ketupat ini.

“Yang jelas kami umat Islam diajak untuk memahami arti pentingnya menghormati orang tua, tidak angkuh dan tidak sombong kepada mereka serta senantiasa mengharap ridho dan bimbinganya. Ini sebagai bukti cinta dan kasih sayang seorang anak kepada orang tuanya begitupun orang tua kepada anaknya,” jelasnya.

Namun mengaku lepat tidak hanya pada tradisi sungkeman seorang anak kepada orang tua. Tetapi lebih mendalam lagi dan lebih luas lagi termasuk memohon maaf kepada tetangga, kerabat dekat maupun jauh hingga masyarakat muslim lainya.

“Umat Islam dituntut untuk mau mengakui kesalahan dan saling memaafkan dengan penuh keikhlasan yang diwujudkan dengan ketupat ini,” tegas Kyai.

Kyai Mansyur menyebut , ketupat menjadi simbol maaf bagi masyarakat Jawa dengan mengaku lepat atau mengaku salah tadi. Ketupat nantinya yang disuguhkan dan ketupat tersebut dimakan. “Secara otomatis pintu maaf telah dibuka dan segala salah dan khilaf antar keduanya terhapus, kembali suci kembali bersih,” pungkasnya. [kun]



Sumber Berita

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here